Selasa, 03 Maret 2015

Anas: Abba Abba Lama Sabachthani

“Di atas segalanya saya terima kasih sama pak SBY, mudah-mudahan peristiwa ini punya arti dan punya makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014,” Demikian pernyataan Anas sebelum masuk mobil tahanan.

Menurut anda, mengapa Anas mengucapkan terimakasih kepada pak SBY? Terimakasih atas apa?

Jika team pengacara Anas tidak mau berspekulasi mengenai apa maksud Anas, maka saya sebagai rakyat jelata menikmati berspekulasi mengenai ucapan terimakasih Anas.
Penetapan Anas sebagai tersangka terjadi hampir satu tahun lalu tanpa penahanan. Seorang tersangka bisa ditahan, bisa juga tidak. Anas beruntung, dia tidak langsung ditahan. Masih bisa menghirup udara bebas.

Berangkat dari perjalanan karir Anas yang mendapat dukungan kesaktian berbagai pihak. Serta tidak langsung ditahannya Anas saat dia ditetapkan jadi tersangka,saya berprasangka bahwa Anas merasa SBY selama ini melindunginya. Karena dengan melindungi Anas, berarti melindungi seluruh jaringan yang terlibat dalam korupsi Hambalang ini. Yang bisa saja mengarah pada Ibas, seperti rumor yang beredar. Tentu saja,sebagai bapak, SBY akan melindungi anaknya. Dengan demikian, harus melindungi Anas juga. Bahkan Andi Malarangeng saja langsung ditahan, tapi Anas tidak. Bukankah pak SBY sedemikian perduli pada Anas sehingga melindungi Anas dari penahanan KPK?

Belum lagi, jika Ibas terlibat, kepada siapa Ibas membagi uangnya? Jika anda terima uang “keuntungan” proyek, kepada siapa anda akan berbagi? Atasan anda bukan?

Mudah-mudahan rumor itu tidak benar. Ibas tidak terima uang dari Anas. Dengan demikian atasan Ibas tidak terima uang dari Ibas.

Pemanggilan pertama KPK memberi nuansa lain. Kali ini bisa-bisa tidak membuat Anas pulang ke rumah. Karenanya, Anas menurut saja ketika disarankan tidak datang ke KPK. Anas masih berharap perlindungan dari SBY, sebagai penasihat, sebagai bapak, sebagai yang dituakan, sebagai orang yang powerful di bumi Indonesia ini.

Namun SBY tidak bisa menolong Anas.

Anas minta tolong lagi. SBY tetap tidak bisa melindungi Anas dari penahanan KPK.

Anas berseru, “Abba.. Abba.. Lama Sabachthani..”

Bapak.. Bapak SBY.. Kenapa aku ditinggalkan?

SBY diam saja. Tidak bisa menolong.

Panggilan kedua, KPK menahan Anas.

Anas kesal. Lalu keluarlah statemen satire itu: “Terimakasih pak SBY, mudah-mudahan peristiwa ini punya arti dan punya makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014,”

Hadiah apa yang menanti SBY dari Anas di tahun baru 2014?

Sementara kelompok masyarakat emosional berseru: “Salibkan dia! Salibkan dia!“

Maksud saya: “Gantung dia! Gantung dia!”

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar