Minggu, 01 Maret 2015

Melihat Rusun Bersubsidi di Den Haag

Tinggal di rusun, memang harus banyak bertoleransi dan berinteraksi dengan tetangga. Karena masyarakatnya banyak dengan aneka karakter, jadi harus sama-sama menjaga agar tidak mengganggu tetangga. Baik suara maupun kebersihan lingkungan.

.

1384741179277164506

Rusun Bidaracina. Foto: Antarafoto.

Kebetulan saya sering mengunjungi rusun Bidaracina di Jatinegara Jakarta. Di sini, banyak kegiatan positif, seperti penjualan beras miskin, serta berbagai pelatihan gratis untuk masyarakat. Acara favorit saya di rusun adalah nonton bareng final piala dunia di layar tancep pelataran parkir rusun. Seru. Karena ibu-ibu tanpa dikomando menyediakan aneka camilan dan kopi bagi semuanya. Gotong royong kekeluargaan ala Indonesia.

Menurut saya rusun Bidaracina tidak layak huni. Sumpek dan kumuh sekali. Sampah bertumpuk. Entah kenapa, terasa lembab. Tidak seperti rusun bersubsidi yang masih baru dibangun, suasananya lebih hangat dan lingkungannya lebih bersih. Mungkin karena rusun ini tidak dicat. Jadi terasa tidak senyaman rusun bersubsidi yang baru. Kalau dilihat dari luar, rusun Bidaracina tampak seperti kandang burung. Bukan tempat tinggal yang layak untuk manusia.

Urusan perumahan warga Jakarta dan sekitarnya, memang bukan urusan yang sederhana. Pembangunan yang tidak merata di seluruh Indonesia mengakibatkan semua ingin tinggal di Jakarta. Sehingga penduduknya banyak. Sudah penduduknya banyak, masih ada juga yang ngotot menolak KB dengan alasan dilarang Tuhan. Padahal Tuhan entah dimana tidak kelihatan kapan melarangnya. Sehingga masyarakat beranak pinak kadang sampai 12 anak untuk satu istri. Kalau istrinya ada 4, maka anaknya ada 48. Kalau sudah begini, tinggal bilang: rejeki kan Tuhan yang ngatur. Padahal yang mengatur perumahan, sanitasi, kesehatan, transportasi, infrastruktur adalah pemerintah. Bukan Tuhan.

Dengan banyaknya penduduk, maka pemerintah harus membangun rusun yang besar-besar yang berisi banyak sekali tempat hunian. Makin banyak hunian di blok rumah susun, maka makin banyaklah warga yang tinggal di situ.

Mari saya ajak anda melihat rumah susun di Den Haag, Belanda, sebagai perbandingan bagi anda, seperti apa sih rumah susun bersubsidi di Belanda?

Warga Den Haag tidak sebanyak warga Jakarta. 49.5% penduduknya adalah penduduk asli, sementara 50.5% adalah imigran. Imigran non western ada 34.6%. Diantaranya 9.4% orang Suriname, 5.6% orang Maroko, 7.6% orang Turki. Lain-lain termasuk orang Indonesia 12%. Sementara imigran western (eropa dan amerika) 15.9%. Jadi, imigran di Den Haag lebih banyak dari warga asli orang Belandanya. Namun, negara juga menyediakan rusun bersubsidi bagi warga imigran kurang mampu.

Tidak seperti rusun di Jakarta yang tinggi-tinggi untuk menampung banyak penghuni, rusun di sini rata-rata hanya 4 lantai. Sehingga satu rusun tidak dihuni terlalu banyak orang. Ada rusun untuk keluarga, ada rusun khusus untuk penghuni yang satu orang. Kebetulan yang saya kunjungi adalah rusun untuk penghuni satu orang. Seluruh foto-foto berikut ini adalah milik sendiri.

Lantai Dasar
.

13847401521120741854

Ini adalah ruang duduk bersama, tempat menonton TV. Namun di setiap kamar sudah ada TV yang sudah disediakan jika menempati rusun ini.

.

138474022156451054

Di seberang sofa hijau tadi, ada meja dan kursi-kursi. Perhatikan tempat parkir sepeda di halaman belakang. Di sini, transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat adalah sepeda, bus dan trem. Bukan sepeda motor atau mobil. Populasi sepeda di jalan raya jauh lebih banyak daripada mobil atau motor.

.

1384740286737623206

Ini adalah sofa di sudut halaman belakang. Untuk duduk-duduk dan berkomunitas dengan penghuni lainnya.

.

13847403401930079643

Ini adalah pemandangan teras belakang difoto dari dapur lantai dasar.

Lantai Satu

Lantai satu dan seterusnya adalah hunian dan ruang bersama. Dalam ruang hunian tidak ada dapur dan ruang cuci. Jadi untuk dapur dan ruang cuci menggunakan ruang bersama.
Fasilitas bersama:

.

13847406472126400101

Keluar dari lift, maka pemandangan lantai atas adalah seperti ini. Ada meja kayu untuk membaca, dan permainan bola yang disediakan oleh rusun.

.

1384740719903965605

.

13847407711009340168

Ini adalah ruang makan bersama bagi penghuni. Di sini bisa menonton televisi, juga bisa memasak. Kalau ada pertandingan bola, maka penghuni rusun menonton tv bersama disini. Makanan gratis disediakan 3X sehari untuk seluruh penghuni. Penghuni wajib memberitahukan jika hendak makan di luar, atau ada request menu usulan. 

.

1384740833276638262

Ini adalah ruang laundry. Mesin yang di bawah adalah mesin cuci, sementara yang di atasnya adalah mesin pengering. Anda dapat melihat dua papan tulis kecil tergantung di ruangan tersebut. Yang mencuci pakaian di tempat itu wajib menuliskan namanya. Sedang menggunakan mesin yang mana.
.

13847408991511647415

Ini adalah balkon.

Hunian:

.

1384740946163084438

Lorong antar kamar hunian terlihat seperti ini.

.

138474098489963111

Kamar hunian untuk satu orang cukup nyaman dan tidak terasa sempit. Ukurannya hampir sama dengan ukuran rusun bidaracina yang dihuni oleh satu keluarga.

.

1384741026316817085

Hunian di dalam terlihat seperti ini. Barang-barang ini adalah milik pemerintah. Tempat tidur, lemari, meja, kursi, tempat sampah dan tv sudah disediakan. Jadi penghuni tinggal masuk saja.

Hingga saya mati nanti, mungkin Jakarta belum bisa punya rumah susun bersubsidi seperti ini. Namun bisa jadi cita-cita bagi kita semua. Jika kita bayar pajak, APBN dan APBD tidak dikorupsi, masyarakat sadar KB, maka bukan tidak mungkin fakir miskin dapat rusun bersubsidi seperti di Den Haag ini.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar