Kebakaran 1000 rumah di Jakarta, hanya terjadi di era Jokowi. Isu ini dihembuskan oleh Demokrat. Seolah menggiring opini publik bahwa Jokowi lah yang membakar 1000 rumah ini.
Soal penyadapan oleh Amerika juga salah Jokowi. Padahal Amerika sudah buka konsulatnya di Jakarta selama 212 tahun. Ketimbang terkaget2 disadap oleh Amerika, kenapa tidak berasumsi saja bahwa Amerika memang menyadap Indonesia, dan seharusnya Indonesia juga menyadap Amerika?
Isu berikutnya adalah soal kemacetan Jakarta disebabkan oleh Jokowi dilemparkan oleh Presiden Yudhoyono. Karena pertumbuhan penduduk tidak disertai dengan pertumbuhan transportasi publik. Katakanlah pertumbuhan penduduk 1 % setahun. Jika Jokowi telah menjabat selama 1 tahun maka Jokowi seharusnya telah memperbaiki infrastruktur transportasi sebanyak 1%. Dan Presiden seharusnya telah memperbaiki infrastruktur Indonesia sebanyak 10% minimal. Namun faktanya, dalam 10 tahun, tidak satupun jalur kereta bertambah, tidak satupun pelabuhan dibangun, tidak satupun jalan tol pantura dan pansela dibuat. Tidak satupun jalur transportasi massal yg menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelitnya dibangun.
Kinerja 10 tahun yang tidak perform dianggap salah Jokowi. Rakyat dianggap bodoh semua. Atau, mengharapkan reaksi rakyat bodoh untuk sama-sama menyalahkan Jokowi. Karena Jokowi ini membahayakan.
Tepatnya: Jokowi Ahok membahayakan.
Dua-duanya dapat award sebagai Pejabat Bersih di tengah gerombolan koruptor. Jadi salahkan saja Jokowi agar yang korup ini bisa tetap terlihat perform dan terus korup.
Situasi ini mirip saat penangkapan Luthfi Hasan. Dimana PKS menyalahkan Zionis Yahudi atas penangkapan Presiden PKS. Dan saat dimana ormas-ormas ngarab menyalahkan Yahudi dalam setiap situasi yang dianggap tidak sesuai.
Jokowi dan Yahudi sama saja. Objek yang paling empuk untuk disalahkan. Apapun yang salah dalam lingkungan kehidupan anda, sudah pasti salah Jokowi dan Yahudi.
Siapa di sini yang bahlul?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar