Senin, 02 Maret 2015

Sinterklas Suka Kesasar di Padang

Waktu kecil, saya tidak tahu kalau hari raya Islam hanya untuk orang Islam dan hari raya Kristen hanya untuk orang Kristen. Selain tidak tahu, saya juga tumbuh di lingkungan yang merayakan hari raya bersama-sama. Keluarga saya merayakan lebaran heboh-hebohan. Masak ketupat dan dan berbagai lauknya. Berkunjung ke saudara-saudara, sungkeman, dan dapat uang. Hari raya natal juga heboh-hebohan. Sambal dan lalapan tidak pernah ketinggalan. Satu suro, dirayakan dengan tidak tidur semalaman. Makan rambak.

Baru setelah dewasa, ada pengkotak-kotakan. Hari raya umat Kristen haram dirayakan oleh umat Islam. Diciptakan jarak sedemikian rupa antara umat Islam dan umat Kristen sehingga umat Kristen pun berhati-hati untuk turut merayakan lebaran.

Adalah tetangga saya, sahabat saya, muslim, orang Padang, yang mengajak saya untuk menaruh rumput di kaos kaki, untuk rusa Sinterklas kalau nanti malam datang. Rumput harus disediakan mulai setiap tanggal 4 Desember. Dia ngajarinya begitu. Saya sendiri tidak pernah dengar ada cerita itu dari lingkungan keluarga maupun kerabat yang beragama Kristen. Lalu kami mencari rumput bersama. Ditaruh di kaos kaki. Tapi, hingga natal tiba, Sinterklas tidak pernah datang. Rumputnya tetap utuh, dan kadonya tidak ada. Sementara, sahabat saya dapat kado, dan rumputnya sudah dimakan rusanya Sinterklas.

Begitu terus sampai 3 tahun berturut-turut. Lalu saya tanya bapak saya. Kenapa kok Sinterklas tidak datang kemari. Kata bapak saya, Sinterklas tidak datang ke rumah orang Jawa. Lalu, kenapa Sinterklas datang ke rumah orang Padang depan rumah?

Bapak saya enteng saja menjawabnya. Sinterklas memang suka kesasar di Padang.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar