Minggu, 01 Maret 2015

Jika Denda Sampah Tidak Mempan, Digranat Saja

Mengatur keledai memang sulit. Mereka melongo saja, lalu buang hajat dimana mereka suka. Bisa jadi buang hajat di muka keledai lainnya, sementara keledai lainnya juga tidak perduli temannya buang hajat di situ.

Soal membuang sampah, warga Jabodetabek, agaknya lebih parah dari keledai. Keledai tidak menuntut. Tapi warga yang kayak keledai ini, sudah buang sampah seenak udelnya, masih minta jaminan kesehatan atas penyakit yang ditimbulkan akibat sampah-sampah yang dia buang di lingkungannya sendiri dan tetangganya.

Pernah saya menanyakan, bukankah anda diajari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman? lalu saya dapat jawaban, itu kan kebersihan diri sendiri. Bukan soal kebersihan lingkungan. Jadi kita boleh membuang sampah di halaman tetangga, di dalam rumah orang, di sungai, di pinggir jalan, di tempat umum, yang penting tubuh kita bersih, dibersihkan lima kali sehari, itu tanda kita beriman. Karena kebersihan tubuh kita adalah bagian dari iman kita. Bukan kebersihan orang lain.

Keledai dungu dan liar.

Saya tidak habis pikir, kenapa ada orang beritikad membuang limbah berpenyakit ke lingkungannya. Secara masif dan berantai, kita juga dapat limbah dari yang lain. Warga Jakarta Utara dikirimi limbah berpenyakit dari warga Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, lewat sampah yang dilemparkan ke sungai. Sementara warga Jakarta dapat penyakit dari sampah warga Bogor yang dilemparkan ke sungai.

Belum lagi soal arogansi. Ada yang ditegur, kenapa anda tidak buang kertas koran bekas anda sholat di lapangan tadi? Jawabnya, kan bisa mendatangkan manfaat bagi yang memungutnya. Bisa dijual seribu perak sekilo. Bisa buat makan anaknya. Rupanya hendak bersedekah selembar koran bekas saja tak sudi memberi dengan tangan kiri apalagi tangan kanan. Yang menerima sedekah harus merunduk mengambilnya dari kaki anda. Barulah sedekah kertas koran bekas sholatnya jadi afdol. Kalau mau sedekah dari orang beriman, ambil dong dari kaki..

Sama juga dengan yang buang sampah di sungai. Kan ada TNI, kan ada Jokowi yang memunguti sampah gue di sungai.

Sengak bener gaya lu.

Apa susahnya membuang sampah di tempat sampah?
Apa susahnya menyimpan sampah anda dan membuangnya di tempat sampah NANTI jika anda menemukan tempat sampah?
Apa susahnya menyediakan tempat sampah milik sendiri jika negara tidak membelikan tempat sampah buat anda?

Di era tujuh puluhan, mertua saya membuat tempat sampah di depan rumah untuk keperluan pembuangan sampah keluarga. Namun yang terjadi adalah, warga entah dari kampung mana setiap hari turut membuang sampah di situ, sehingga depan rumah berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah umum. Akhirnya, tindakan warga membuang sampah di tempat itu dapat dihentikan dengan cara meledakkan tempat sampahnya dengan granat siang-siang.

Membuang sampah sembarangan adalah tindakan mencelakai lingkungan yang dilakukan dengan sadar dan disengaja. Mencelakai orang banyak yang dilakukan dengan sadar dan disengaja. Jika denda yang diterapkan Pemda DKI bagi pembuang sampah sembarangan tidak berhasil, mungkin cara mertua saya bisa dipertimbangkan. Digranat saja.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar