Senin, 02 Maret 2015

Hari Ibu: Mendapur-sumur-kasurkan Perempuan

22 Desember bukanlah Hari Ibu. Tapi Hari Perempuan yang ditetapkan dalam Dekrit Presiden Soekarno No. 316 Tahun 1959 menjadi hari nasional.

Sejarah Hari Ibu diawali dengan bertemunya para perempuan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengadakan Kongres Perempuan dua bulan setelah Sumpah Pemuda. Organisasi perempuan sendiri sudah bermula sejak 1912, terinsiprasi oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutia, Kemalahayati, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Pertemuan para perempuan pejuang kemerdekaan dalam Kongres Perempuan pertama diselenggarakan pada tanggal 22 Desember 1928, kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Untuk memperjuangkan pembebasan perempuan dari kemiskinan, perbudakan perempuan dan kawin paksa. Mempromosikan hak pendidikan dan kesehatan agar para ibu tidak mati karena melahirkan. Serta memperjuangkan hak politik perempuan untuk mendapat persamaan kedudukan di muka hukum.

Namun, makna perjuangan perempuan yang diperingati setiap tanggal 22 Desember telah dikerdilkan menjadi mother’s day. Hari Ibu. Mengkerdilkan perjuangan para perempuan pejuang kemerdekaan Indonesia masuk ke ranah domestik, ngurusi dapur sumur dan kasur semata. Sehingga pada tanggal 22 Desember semua orang ramai-ramai mengucapkan terimakasih kepada ibu yang telah membesarkan kita: masak, cuci kolor dan membereskan kasur.

Mengkerdilkan perempuan sehingga menjadi tidak setara dengan laki-laki mengakibatkan perempuan dimarjinalkan dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Tidak mendapat perlakuan dan akses setara kepada kotrasepsi, kesehatan, pendidikan, perangkat kerja dan kredit usaha mikro. Bahkan belakangan ini, cara berpakaian, cara duduk, ketentuan menari serta bagaimana perempuan bepergian, ada yang ditentukan oleh laki-laki serta diundang-undangkan pemerintah daerah.

Sementara, tingkat kekerasan terhadap perempuan makin tinggi. Perdagangan perempuan malah difasilitasi negara dalam PJTKI yang memiliki pola kerja serupa perdagangan manusia: mengikat korban dengan hutang.

Angka kematian ibu melahirkan 220 meninggal per 100.000 persalinan hidup. Bandingkan angka kematian ibu melahirkan ini dengan Malaysia 29, Singapore 3, Brunei 24, Thailand 48, Philipine 99, Australia 7.

Hari Ibu yang dibentuk di Indonesia, pada dasarnya jauh lebih berbobot value-nya bagi kesejahteraan perempuan dan anak yang bisa berujung pada kemajuan bangsa daripada Mother’s day nya orang barat yang memperingati hari ibu dengan berterimakasih soal masak memasak, mengurus anak dan membersihkan rumah. Namun dalam penerapannya, malah terbalik. Dalai Lama menyebutkan: dunia akan diselamatkan oleh perempuan barat.

Hari Ibu Indonesia – baca: Hari Perempuan Indonesia – adalah soal memerangi perdagangan perempuan dan anak, memberikan kemudahan akses kepada kesehatan, kontrasepsi dan pendidikan, memerangi kekerasan domestik dan memerangi kekerasan seksual.

Ini bukan soal dapur, sumur dan kasur, bung..

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar