Minggu, 01 Maret 2015

Punya Anak Banyak Melanggar HAM dan Menghancurkan Bumi

HAM nya siapa yang dilanggar jika seseorang memiliki anak banyak? Tentu saja HAM nya orang lain, istrinya, anaknya, tetangganya, lingkungannya, pemerintahnya. Bukan HAM dirinya sendiri.

Beberapa waktu lalu kita sering disuguhi foto-foto keluarga para petinggi PKS yang anaknya bisa ada selusin dari satu istri. Jika istrinya ada 4, maka anaknya ada 48. Bagaimana cara menghidupi anak sebanyak itu? Jawabannya klise: anak kan titipan Tuhan, nanti Tuhan yang kasih makan.

Kalau bapaknya masuk penjara KPK, lalu siapa yang kasih makan? Tuhan.
Soal egoisme pria ini, lepas tangan dan lempar tanggung jawab pada Tuhan untuk menghidupi anak-anaknya. Tugas suami berhubungan sex. Istri hamil, melahirkan, mengurus anak, hamil, melahirkan, mengurus anak. Begitu seterusnya. Istri yang satu hamil, masih ada istri cadangan yang tidak sedang hamil. Istri yang tidak hamil sedang menstruasi, masih ada istri serep yang tidak sedang masa subur. Urusan kasih makan, urusan Tuhan. Suami cari uang, yang kalau tidak cukup, plintar plintir istilah korupsi jadi komisi. Jika Tuhan tidak menghendaki korupsi, maka anak dijual jadi buruh di luar negeri.

Perintah Tuhan untuk berkembang biak kepada Adam Hawa digadang-gadang sebagai legalisasi punya anak banyak. Padahal jamannya Adam Hawa, manusia hanya 2 orang, sementara sekarang sudah 7,1 miliar. Masih juga bilang berkembang biaklah dan penuhilah bumi. Padahal bumi sudah penuh.

Indonesia sendiri, menurut PBB saat ini sudah berpenduduk 251.160.124 jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1.04% per tahun. Dengan luas daratan 1.811.569 km persegi, dan area yang ditinggali penduduk sebesar 12.34%, selebihnya adalah hutan, perkebunan dan area lain,sehingga kepadatan penduduk saat ini adalah 1.124 jiwa per km2.

Dengan mengacu pada data yang direlease oleh PBB, mengasumsikan pertumbuhan penduduk Indonesia adalah tetap, dan area hutan serta perkebunan adalah tetap. Maka menggabungkan seluruh faktor tersebut, kita mendapatkan kepadatan (density) penduduk per kilometer persegi sebagai berikut:

1381384096803417165

Sumber: United Nations, World Population Review.

.

Jakarta, bukan hanya kota yang terbanyak penduduknya di Indonesia, tapi juga kota dengan penduduk terbanyak di Asia Tenggara, dan terpadat ke-13 se muka bumi. Jabodetabek, adalah area metropolitan kedua terbesar di dunia. Berpenduduk 28 juta jiwa, merupakan salah satu area yang memiliki pertumbuhan tercepat di dunia, lebih cepat dari Beijing dan Bangkok. Dengan kepadatan penduduk 15.342 per kilometer persegi.

Dari seluruh penduduk Indonesia yang sebesar 251.160.124 tersebut, 26.6% di antaranya berusia 0-14 tahun. Sementara hanya 6.4% berusia di atas 65 tahun. Dikurangi angka kematian dan migrasi penduduk, maka diperoleh pertambahan penduduk sebesar 1.04%. Angka 1.04% memang sepertinya kecil. Namun, dikalikan 250 juta, maka merupakan pertumbuhan yang signifikan.

Jakarta Post menyebutkan, bahwa masyarakat muslim memberi kontribusi utama percepatan pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol ini.

Siapa yang memberi makan orang sebanyak ini? Negara hingga saat ini mengandalkan ketahanan pangan bangsa pada negara-negara lain seperti Amerika dan Australia. Kehidupan manusia se-Indonesia sangat tergantung pada negara-negara lain. Kita masih tidak mampu melakukan swasembada pangan.

Perhatikan kolom density / kepadatan penduduk per kilometer persegi dalam tabel di atas. Kepadatan penduduk tersebut akan dialami anak cucu anda di masa datang. Manusia sebanyak itu perlu pangan, infrastruktur, transportasi massal, perumahan, pengendalian banjir, penanganan sampah, pengolahan air bersih, pasokan listrik.

Sejak bumi baru dibuat hingga saat ini, belum pernah terjadi ada sapi jatuh dari langit karena Tuhan hendak memberi makan anak-anak yang adalah titipanNya. Sapi kita datangnya dari Australia. Bukan dari langit. Kedelai datang dari Amerika, bukan dari langit. Perintah Tuhan untuk beranak pinak dan memenuhi bumi sudah kita selesaikan dengan baik jika bumi sudah penuh, sehingga kita tidak perlu terus-terusan memenuhi bumi lagi. Sudah waktunya kita memikirkan kesejahteraan anak cucu cicit kita, bukan kesenangan kita sendiri saja saat ini.

Oleh karenanya, bungkus syahwat anda dengan kontrasepsi. Jangan sembarangan beranak pinak. Bumi tidak melar.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar