Kamis, 05 Maret 2015

Gara-gara Sop Janda

13896713131117085039


Foto kiriman teman.

.

Seperti biasa, group alumni di Whatsapp riuh rendah. Penuh tawa, penuh guyon. Sebuah persahabatan yang kompak dan menyenangkan. Pembicaraan seringkali tidak nyambung. Tapi seru-seru saja. Tempat ketawa-ketiwi setiap hari. Seperti biasa, kalau kumpul-kumpul pasti acaranya makan-makan. Karena Jakarta sudah dua hari diguyur hujan, maka yang paling enak makan sop. Usulan kali ini Sop Janda.

Arif: “Enak juga nih makan sop, cari yang anget-anget. Enaknya makan apa ya?”

Yonef: “Ayo makan apa?”

Arif: “Ada nih sop janda”

Arif memposting baliho papan nama sebuah rumah makan. Sop Janda Panasss… Pedass… Kecut

Yonef: “Jauh amat itu warung, apa nggak ada cabangnya yang dekat?”

Arif: “Jakarta ada cabangnya”

Beny: “Yonef belagak pilon, dia kan langganannya janda..”

Ayu: “Kalian ini bukannya menyantuni janda, kok malah membully janda, sampai di sop segala, dipasang di baliho.”

Arif: “Lebaayy…”

Aby memposting foto profile Yonef. Pakai jas, keren.

Arif: “Caleg mana nih..”

Aby: “Menteri muda urusan wanita muda”

Busri: “Menteri muda urusan janda muda”

Arif: “Sop janda muda”

Busri: “Ngomong-ngomong soal janda, siapa sih kawan kita yang sudah janda?”

Yonef: “Datanya ada di Arif”

Busri: “Emangnya Arif kolektor janda ?”

Ayu: “Boleh juga tuh ide lu. Siapa kawan kita yang udah janda?”

Busri: “Elo mau daftar?”

Ayu: “Datanya kan udah ada di Arif”

Busri: “Arif customer ya? Apa kolektor?”

Ayu: “Mana gue tau. Tapi boleh juga tuh ide lu. Siapa kawan-kawan kita yang janda. Jadi kawan-kawan pria bisa jadi customer. Kita bisa setarakan kawan-kawan kita yang janda dengan pelacur.”

Busri: “Jangan dong Yu!”

Ayu tidak merespon. Tidur saja. Hari sudah malam.

Pagi hari, handphone mulai berbunyi. Seperti biasa ucapan selamat pagi dari kawan-kawan. Tiba-tiba Nur meng-copy paste tulisan Ayu.

Nur: “Mana gue tau. Tapi boleh juga tuh ide lu. Siapa kawan-kawan kita yang janda. Jadi kawan-kawan pria bisa jadi customer. Kita bisa setarakan kawan-kawan kita yang janda dengan pelacur. Astagfirullah…!! apa ini maksudnya???”

Tidak ada yang menjawab. 10 menit.. 15 menit..

Nur: “Kenapa pada diam? Apa ini maksudnya?”

Tidak ada yang menjawab.

Nur: “Ayu, saya minta penjelasan, apa maksud pernyataan ini??”

Ayu: “Menurut teman-teman sih, janda bisa dikoleksi, bisa disop, bisa juga diperdagangkan, makanya ada customernya”

Nur: “Astagfirullaaahh…. !!!”

Nur terdengar shock. Suaminya belum lama ini meninggal dunia.
Nur: “Gue lagi di luar negeri, kangen sama temen-temen, kenapa kok kalian begini? Apa janda itu kotor sehingga dijadikan guyonan seperti ini? Kira-kira dong kalau becanda. Coba posisikan diri kalian pada posisi saya. Emangnya enak dianggap pelacur? Astagfirullah…!!”

Teman-teman diam.

Nur: “Saya kerja halal kok dijadikan guyonan seperti ini? Kampungan sekali becandanya. 
Nggak punya empati sama perasaan orang lain. Administrator mana nih administrator?? Kenapa jadi begini group ini??”

Mampus deh. Admin diamuk.

Uki: “Haduuhh… ada apa ini kok ribut-ribut pagi-pagi? Kawan-kawan, coba yaa kalau bercanda jangan kelewatan begitu. Nur.. saya atas nama teman-teman minta maaf. Nyebut ya Nur.. nyebut.. saya atas nama teman-teman minta maaf.. “

Nur: “Astagfirullah..”

Taufik: “Astagfirullah..”

Yonef: “Maafin kita ya Nur.. kita kelewatan bercandanya..”

Nur: “Astagfirullah..”

Kasihan. Terasa sekali kalau Nur sedemikian shock. Belum lama jadi janda, jadi belum terbiasa dengan guyonan disetarakan dengan pelacur oleh lingkungan.

Yonef: “Ayo teman-teman, kita minta maaf sama Nur. Maaf ya Nur.. kita benar-benar kelewatan.”

Semua diam. Tidak ada yang minta maaf.

Beny: “Kampungan sekali becandanya. Nggak punya empati sama perasaan orang lain. Administrator mana nih administrator?? Kenapa jadi begini group ini??!!!”

Beny meng-copy paste tulisan Nur, ditambahi tanda seru. Entah apa maksudnya. Namun tetap tidak minta maaf.

Dalam situasi seperti ini, setiap orang terlihat jati dirinya. Ada yang tidak turut berbuat tetapi berinisiatif pertama kali meminta maaf atas nama yang berbuat, ada yang langsung minta maaf, ada yang tidak mau minta maaf, ada yang malah marah kepada yang dibully.
Kling.

Handphone Ayu berbunyi. BBM dari Evy, wanita tangguh itu.

“Gue ada salah apa ya sama temen-temen sampai dijadiin bahan guyonan seolah gue ini pelacur? Padahal gue kerja halal, dan nggak pernah sekalipun rumah tangga temen-temen gue gangguin”.

Ayu menghela nafas. Apakah persahabatan bisa seperti dulu lagi jika kawan-kawan memandang para janda di antara komunitas sendiri setara dengan pelacur, menjadikannya guyonan, membully dan mentertawakannya? Sementara para janda ini adalah wanita baik-baik yang bekerja keras dengan halal agar anak-anaknya dapat menyelesaikan sekolah?

Di dekat Ayu duduk Yuni, sahabatnya yang sudah datang pagi itu. Dia menceritakan persoalan di group ini. Yuni seorang janda. Mantan suaminya kedapatan pacaran dengan remaja berusia 14 tahun, yang sering mengunjungi suaminya dengan diantar orang tuanya.

Bagaimana jika guyonan soal janda diganti dengan remaja putri?

Siapa yang punya anak remaja? mungkin di antara kawan-kawan kita ada yang mau menyatroninya, jadi customernya, atau mengkoleksinya? Anak anda bisa juga diiklankan sebagai Sop Remaja Panasss… Pedass… Kecut.

Apakah kita masih bisa tertawa-tawa jika teman-teman kita menyetarakan buah hati kita dengan pelacur dalam sebuah guyonan?

Janda kah ibumu?

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar