Minggu, 01 Maret 2015

Jokowi dan Monyetnya Presiden Soeharto

1382362518798783557

Gambar milik sendiri

.

Pernahkah anda melihat pengumuman seperti dalam gambar di atas?

Saya sering sekali melewati jalan ini, dan mengamati pengumuman tersebut sambil geli sendiri. Di jaman kayak gini, siapa juga yang mau bawa-bawa anjing, kucing dan kera ke tengah kota? Untuk anjing dan kucing yang biasa dipelihara pun, sudah tidak berpenyakit anjing gila seperti di jaman dahulu kala. Bahkan, bayi anjing dan kucing, harus divaksin lengkap seperti bayi. Vaksin ini dan itu hingga usia satu tahun. Belum lagi harus minum susu formula setiap hari. Jadi, pengumuman ini, tadinya saya pikir sudah ketinggalan jaman.

Tidak disangka-sangka, jaman yang seharusnya maju, ini malah mundur. Jakarta yang katanya Kota Metropolitan diserbu topeng monyet yang urbanisasi untuk cari kerja. Yang kemudian direspon oleh Jokowi dengan membeli seluruh monyet tersebut untuk ditempatkan di Kebun Binatang Ragunan. Sementara pemiliknya akan diberi pembinaan. Padahal, tidak ada Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah, apalagi Perda manapun yang mengharuskan membeli hewan-hewan tersebut. Ini hanya sisi kemanusiaan Jokowi Ahok saja. Yang kemudian diplintir oleh Sekjen KPAI, M Ihsan menjadi pernyataan: Pemprov DKI lebih memperhatikan monyet daripada anak terlantar.

“Semoga nasib anak-anak di Jakarta bisa lebih beruntung daripada monyet yang dapat tempat di Ragunan dan pemiliknya dapat bantuan pembinaan,” ujar Ihsan.
Bukan berarti anak terlantar tidak penting. Namun kita sama-sama tahu, bahwa anak terlantar tidak bisa ditempatkan di Kebun Binatang Ragunan. Tapi monyet bisa.

Mengurus anak terlantar jauh lebih kompleks daripada mengurus monyet. Karena anak-anak adalah masa depan bangsa yang pembinaannya sangat penting. Sedemikian pentingnya sehingga urusan anak terlantar tertuang dalam UUD 45, sementara urusan monyet tertuang dalam Peraturan Pemerintah Tahun 1983, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto, dan dilaksanakan oleh Jokowi.

Kenapa tidak ada yang berani bilang kalau Presiden Soeharto lebih mementingkan monyet daripada anak terlantar?

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar