Minggu, 01 Maret 2015

Tanggapan Atas Artikel Provokatif Yusril Ihza Mahendra

Menanggapi artikel Yusril Ihza Mahendra yang judulnya membangkitkan semangat nasional: ”Daulat Bangsaku! Daulat Negaraku! Merdeka!” namun isinya dukungan pembatalan kerjasama dengan Australia, dimulai dengan membatalkan kerjasama penanggulangan imigran ilegal.

Dalam artikel tersebut, Sdr. Yusril marah-marah pada Australia karena tidak mau menampung imigran, sementara Indonesia hanya negara transit terakhir sebelum imigran masuk Australia.

Kenapa tidak marah pada negara transit terakhir sebelum imigran masuk Indonesia?
Kenapa tidak marah pada negara asal imigran?

Anda merasa ditekan oleh Australia, diminta menangkapi imigran. Kenapa anda bisa ditekan Australia tapi anda tidak bisa menekan Afghanistan, Iran dan Myanmar? Keluar dari IOM tidak menyelesaikan persoalan imigran yang sudah mencapai 10.000 jiwa ini, yang tinggal bertahun-tahun di Indonesia menunggu negara ketiga yang bersedia menampung. Mereka tidak bekerja tapi dapat makan.“Padahal rakyat kita sendiri saja miskin, kok harus menahan dan menampung begitu banyak imigran asing yang mau ke Australia” demikian kata anda.

Menurut daily telegraph, IOM membayar $100-$130 per imigran untuk biaya makan dan kesehatan. Sepertinya imigran ilegal ini dapat jatah makan lebih mewah dari supir bajaj dan supir taxi yang kerja keras tiap hari.

Usulan Sdr. Yusril untuk memutuskan hubungan dengan Australia adalah usulan blunder. Ingin imigran ditampung Australia, tapi menutup kesempatan agar Australia mengeluarkan visa dengan memutuskan hubungan dengan Indonesia. Dengan demikian, imigran ini tidak bisa ke Australia.

Kerjasama dengan Australia bukan hanya soal imigran. Ketahanan pangan nasional berada di genggaman tangan Australia, juga Amerika. Belum lagi kerjasama memberantas perdagangan narkoba internasional, serta penanggulangan terorisme. Persoalan-persoalan ini belum selesai dan masih harus ditanggulangi bersama.

Artikel provokasi pemutusan hubungan dengan Australia ini tidak lupa disisipi pengalaman pribadi, merasa terhina saat hendak digeledah ketika memasuki gedung parlemen atas undangan Pemerintah Australia, yang kemudian terselesaikan dengan permintaan maaf PM John Howard. Seharusnya persoalan ini tidak perlu dimasukkan ke hati. Kemana protokoler Kementrian saat itu? mengapa tidak bisa mengantisipasi persoalan, bahwa Menteri Republik Indonesia tidak boleh digeledah? Atau, anda mendadak digeledah, karena tanpa anda sadari, ascessories yang anda kenakan saat itu, mungkin jas anda, kancing baju anda, memancarkan frequency? saat itu, anda disertai inteligen kita atau tidak? anda tidak sebutkan hal tersebut. Pokoknya merasa terhina.

Soal penyadapan, kenapa BIN yang impoten dalam memproteksi Presiden Republik Indonesia, anda malah marah2 pada Australia? Bukankah kita seharusnya instrospeksi diri? Bukankah kejadian ini menunjukkan bahwa inteligen kita lemah sekali?
Jika kita tidak mampu memiliki posisi tawar tinggi, baiknya kita menaikkan kemampuan kita. Bukan mengusir tetangga.

Pada akhirnya, mengingat bahwa anda adalah orang yang sangat cerdas, saya berasumsi bahwa tanggapan saya ini bukan hal baru bagi anda. Dan kita sama-sama tahu, banyak yang mengail di air keruh atas situasi Indonesia - Australia ini. Mengobarkan nasionalisme warga, guna dapat dukungan sebagai bekal pemilu tahun depan.

Selamat malam.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar