Gambar milik sendiri.
.
Ini adalah mushola kami. Sudah hampir jadi. Mushola ke-3 yang dibangun oleh ibu saya. Saya senang melihat staf-staf punya tempat beribadah yang memadai. Tidak sholat dimana-mana, nyempil di sini nyempil di situ. Sekarang memiliki tempat khusus yang nyaman dan tidak terganggu.
Bagi saya, membangun tempat ibadah adalah karena kebutuhan. Bukan untuk gaya-gayaan. Bukan untuk toleransi. Bukan pula untuk cari pahala. Jika di sebuah lingkungan memerlukan adanya tempat ibadah, ya dibangun saja. Sepanjang dibangun di tanah milik sendiri, dananya ada, apa salahnya dibangun? Kenapa juga repot-repot mencari-cari celah agar sebuah rumah ibadah bisa lebih sulit dibangun, atau ijin yang sudah keluar lalu diada-adakan agar ijin dibatalkan kembali, yang intinya bagaimana caranya agar rumah ibadah baru khususnya gereja tidak bermunculan?
Mushola ini, kebetulan dibangun di komunitas non muslim. Tidak ada yang protes. Bahkan, dananya juga dikumpulkan dari komunitas non muslim. Tidak sulit bagi kami mengumpulkan dananya. Karena kami memang berterus terang perlu membangun mushola di tempat kami. Lalu, terkumpullah dana dan jadilah mushola ini. Cara pengumpulan dana ini sama dengan mushola-mushola yang terdahulu yang pernah kami bangun. Mengumpulkan dari non muslim, karena relasi-relasi kami memang kebanyakan non muslim.
Konon, jika kita menceritakan telah membangun rumah ibadah, maka pahala kita akan berkurang. Namun, karena mushola ini dibangun atas dasar kebutuhan staff untuk beribadah, bukan atas dasar mencari pahala, maka saya bebas menuliskan proses pembangunan mushola ini. Saya tidak minta pahala, dikurangi pahalanya pun silahkan saja.
Mushola ini belum punya nama. Menurut anda, sebaiknya diberi nama apa ya?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar