Sebagai pecinta agrikultur,saya bisanya hanya memandangi tanaman, namun tidak bisa menanam. Seluruh tanaman yang saya tanam, umumnya mati. Ada yang mati alami, dimakan tikus, dilalap belalang, dikunyah-kunyah gukguk, keinjek injek keponakan, ketiban gukguk, hingga terlindas mobil.
Baru-baru ini saya membeli pohon-pohon dan membuat taman di rumah. Usia taman saya baru dua bulan. Tapi bunganya lenyap entah kemana. Saya teringat kawan saya Traktor Lubis, yang tangannya sakti. Menanam apapun bisa tumbuh. Kecuali rambut, anti bener tumbuh di kepalanya. Saya ingin bertanya pada Traktor, kenapa tanaman saya pada kritis begini. Sekalian mau kirim bibit kurma dan zaitun, siapa tau bisa dia tanam.
Traktor sudah agak lama tidak menulis. Dia salah satu Kompasianer teraktif di Kompasiana. Sehari bisa nulis hingga 10 artikel Manuver-manuver tulisanya sering tak terduga. Dari agama, sejarah, budaya, dia tau semua. Ajaran Buddha, Islam, Kristen, dia tau semua. Teorinya di Featured Article tentang Allah Ibu sulit dibantah. Terakhir, postingannya rada lebay menurut saya. Tentang cara menanam bunga ini dan bunga itu. Saya tidak perduli tentang cara menanam pohon, saya hanya ingin tanaman saya tidak mati. Makanya saya tanya Traktor. Kenapa bunga saya kritis.
Lama tak berbincang, saya tanya dong.. kenapa kok lama tidak menulis di Kompasiana. Katanya, dia lagi sebel sama Admin. “Tulisan gue dibredel melulu. Mungkin karena gue Buddhist ya Ther..” katanya. Apa hubungannya tanaman sama Buddhist coba? Lalu saya ketik namanya. Ini yang muncul:
.
.
Ebuseett… yang bener aja lu Min.. masak sentimen sama Kompasianer sampe segitunya. Segala fiksi si Esti, Sejarah agama Buddha, artikel agama, anggrek kesayangan almarbum ibunya Traktor, cara menanam bunga, didelete semua. Emang salah apa anggrek kesayangan almarhum ibunya Traktor?
Norak ah…
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar