Minggu, 01 Maret 2015

Tentara, Onta dan Pendakian Gunung Sinai

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi waktu Cairo. Saya segera sarapan. Bersiap-siap berangkat ke St. Catherine, Sinai Utara. Cairo pagi itu masih berkabut. Udara terasa dingin. Sambil menunggu teman-teman, saya memandangi pengemis lumpuh yang duduk di aspal depan hotel, terguling-guling di pertigaan jalan menghindari angkot tua yang nyaris menyerempetnya.

Jam 6 pagi kami berangkat menuju St. Catherine. Seorang polisi bersenjata ikut untuk mengawal di dalam bis kami. Peraturan di Mesir memang demikian. Jarak dari Cairo ke St. Catherine 445km, perjalanan diperkirakan 10-14 jam. Awalnya saya agak bingung, mengapa perkiraan lama perjalanan berjeda segitu banyak. Ternyata tergantung pada berapa lamanya kita berhenti di checkpoints.

Checkpoints adalah pos-pos tentara yang memeriksa dokumen perjalanan. Kami berhenti di sekitar 20 hingga 30 checkpoints, dimana dokumen diperiksa oleh tentara bersenjata yang siaga lengkap dengan tank, sniper, dan binocular. Kami dilarang memotret di checkpoints.

.

1384150641446575650

Sulit sekali menahan keinginan menekan tombol camera.

.

Perjalan panjang seharian bagi saya menarik. Memandangi gurun yang seolah tidak ada siapa-siapa. Namun kadang terlihat kepala tentara menyembul dari balik gundukan tanah gurun dengan senjata dan binocular.

.

1384150800915289188.

Gurun berkilo-kilometer. Jika jeli, anda dapat melihat sniper.

.

Matahari mulai terbenam. Pegunungan Sinai mulai terlihat. Berwarna kemerah-merahan.

.

1384150891321778290.

Pegunungan Sinai di depan.

.

Hari mulai gelap. Kami masih berhenti di tiga checkpoints lagi. Checkpoint di malam hari di kaki pebukitan Sinai tanpa listrik dan penerangan. Gelap gulita. Lampu kendaraan kami menerangi tentara-tentara bersenjata yang memeriksa dokumen perjalanan.

Akhirnya kami tiba di hotel di St. Catherine di kaki gunung Sinai. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Kami makan malam dan beristirahat sebentar, untuk berkumpul lagi di lobby hotel pukul 23.30 nanti untuk mendaki gunung.

Pukul 23.30, suhu 15 Celcius. Ini pengalaman pertama saya mendaki gunung. Bahkan Taman Safari pun belum pernah saya datangi, tapi saya berada di negara orang untuk mendaki gunung. Excited.

15 menit perjalanan dengan bis, kami tiba di di pangkalan onta. Gelap. Tidak ada listrik. Hanya terang bulan dan senter. Banyak sekali pria Bedouin disini. Mereka adalah para pemilik onta. Saya menyewa onta untuk naik separuh gunung. Kami berdua belas, dipanggil satu persatu menuju onta, dua dari antara kami berubah pikiran memilih pulang kembali ke hotel. Selain suhu rasanya menjadi lebih dingin, tengah malam di antara orang Bedouin berpakaian Arab terasa seperti tawanan Osama Bin Laden. Saya dipanggil terakhir.

Seorang Bedouin mengantarkan saya ke ontanya. Saya naik onta. Tidak ada seat belt. Tidak ada tempat pijakan kaki. Wow.. tiba-tiba ontanya berdiri dan langsung lari. Padahal kawan-kawan saya belum siap semua dan rencananya kami akan berjalan bersama-sama. Apa boleh buat. Saya jadi sendirian di atas onta yang berlari tengah malam di jalan berbatu yang sempit ini ke atas gunung.

Bintang bintang bertebaran menghiasi malam. Bulan membuat saya dapat melihat jurang di kiri kanan saya. Ada yang dalamnya hingga ratusan meter. Sepertinya onta ini sudah hafal betul, kapan harus belok, kapan harus lurus, kapan jangan salah melangkah. Jurangnya mengerikan sekali.

Tapi asik juga naik onta di bawah terang bulan. Sekitar satu setengah jam saya berada di punggung onta, hingga akhirnya saya tiba di pangkalan onta tujuan. Warung kopi Khaled. Rupanya banyak orang Indonesia sudah datang ke sini, sehingga pengumuman di warung ini berbahasa Indonesia. Di tembok dekat pintu warung, ada banyak sekali kartu nama orang Indonesia ditempel di situ.

.

13841512871577276441

.

13841512101226276081.

Suasana warung kopi pak Khaled

.

Saya duduk menunggu teman-teman yang masih tertinggal. Memperhatikan suasana warung pak Khaled yang diterangi lampu petromax. Langit-langitnya dilapisi kain bercorak. Dinding dan tempat duduk yang bisa digunakan untuk tidur juga dilapisi kain. Ada beberapa pria Bedouin di situ, pak Khaled, pemilik onta yang juga sudah tiba, dan pemandu perjalanan selanjutnya.

.

1384151357327501117

.

Onta yang tadi saya naiki dari pangkalan onta sampai warung kopi pak Khaled.

.

Sambil menunggu, saya melakukan negosiasi dengan pemandu saya untuk naik ke atas. Namanya pak Ramadhan. 15 dollar, katanya. Tapi kalau anda mau kasih 20 dollar, saya akan senang sekali. Ok, deal. 20 dollar. Disini, kalau menawar harga bukan makin turun malah makin naik. Akhirnya kawan-kawan saya tiba di warung pak Khaled. Separuh dari teman-teman berhenti sampai di sini saja. Tidak bisa melanjutkan perjalanan. Jadi kami tinggal ber 6 naik ke puncak gunung.

.

1384151439533218678.

Pak Ramadhan, memandu saya naik gunung dengan baik. Sehingga saya bisa naik cepat. Jalan menuju ke atas gunung sudah bagus, dibuat tangga-tangga dari tumpukan batu besar menuju ke atas, sekitar 800 anak tangga. Bukan anak tangga biasa, tapi anak tangga besar-besar. Jalannya relatif sempit. Kadang diapit jurang yang dalam.

Sejauh mata memandang ke bawah, tidak terlihat cahaya senter kawan-kawan. Saya terpisah lagi. Sendirian lagi. Di atas gunung ada 3 orang pria Bedouin dan pak Ramadhan. Jadi, kami berlima saja. Saya perempuan sendirian di antara pria-pria Arab ini. Menanti matahari terbit. Duduk di dekat sebuah batu prasasti. Yang menandakan di gunung ini Musa menerima 10 perintah Tuhan.

.

13841514821173522431.

Prasasti penanda, di gunung ini Musa menerima 10 Perintah Allah.

.

Akhirnya kawan-kawan tiba. Kami berkumpul, berdoa bersama sebentar, bersyukur sudah sampai di situ. Duduk beristirahat sejenak menanti matahari dan memandangi indahnya alam.

.

1384151574765439367.

Ketika matahari mulai muncul, kami beranjak turun. Sambil memandangi indahnya pegunungan Sinai.

.

1384151627805709789.

Jalan sempit berbatu yang saya lalui, di antara tebing dan jurang.

.

1384151684917661855

Beristirahat lagi. Pak Ramadhan mengobrol dengan Jamal.

.

13841517651592335273

Matahari mulai menerangi sekitar. Warung pak Khaled sudah terlihat.

.

1384151809708137373

Saya tiba di warung pak Khaled. Onta nakal yang tadi saya naiki sekarang terlihat wujudnya. Kami bergabung dengan kawan-kawan yang tadi tidak turut naik.

.

1384151870165640110

Turun gunung, kami tidak menggunakan onta. Selain turun gunung lebih mudah dengan berjalan kaki daripada dengan menggunakan onta, karena beresiko terjatuh ke depan. Perjalanan dari warung pak Khaled hingga pangkalan onta tempat kami berangkat tadi sekitar 6 km.

.

13841519081340064066

Tinggi juga gunung yang sudah saya daki tadi.

.

13841519631194632744

Pangkalan onta sudah terlihat, tapi masih jauh. Kami tetap semangat.

.

13841520471366855297

Pangkalan onta sudah dekat. Cahaya matahari membuat saya melihat, bahwa di pangkalan onta ternyata ada bangunan.

.

1384152102813134344

Wow! Ini benar-benar St. Catherine Monastery. Dalam rencana perjalanan, saya tidak diberitahu bahwa saya akan melewati St. Catherine Monastery. Rasanya tidak percaya saya berada di sini, melihat sendiri biara ini. Yang sehari-hari hanya dihuni oleh satu orang biarawan saja. Biara ini memiliki sejarah yang sangat penting bagi umat manusia.

Apakah anda ada yang pernah membaca tulisan saya, Surat Dari Nabi Muhammad kepada Biarawan di St. Catherine Monastery?

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar