Minggu lalu, di Indonesia momennya sedang Sumpah Pemuda. Tapi saya sedang berada jauh dari Indonesia. Menyewa perahu untuk menikmati keindahan sebuah danau di utara Israel. Tidak jauh dari perbatasan Lebanon di utara, dan Yordania di timur.
Angin bertiup sepoi-sepoi. Suhu udara sekitar 24 derajat Celcius. Matahari bersinar hangat. Perahu mulai bergerak menjauhi daratan. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh awak perahu yang memutar musik pengiring lagu Indonesia Raya dan seorang awak perahu, orang Israel, memegang bendera merah putih. Tanpa ada yang memberi aba-aba, sontak kami semua berdiri, salah satu dari kami berinisiatif menaikkan bendera bersama awak perahu warga Israel tadi.
.
.
Saya tidak mampu turut menyanyi, menahan air mata agar tidak turun. Teman-teman menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama. Sambil tangan di dahi melakukan hormat bendera. Rasa haru, bangga, terkesima, surprise, campur aduk jadi satu melihat bendera kita dikibarkan oleh pemuda Indonesia bersama warga negara yang paling dibenci bangsa yang saya cintai ini.
.
.
Pelan-pelan bendera dinaikkan. Angin bertiup kencang. Bendera berkibar. Indonesia Raya selesai dinyanyikan. Saya pindah ke dek perahu untuk memandang bendera kita. Ternyata ada bendera Israel sudah berkibar di sebelahnya.
.
.
Sementara perahu sudah hampir berada di tengah danau yang luas ini, sejauh mata memandang, hanya pebukitan dengan warna tanah lebih terang ketimbang warna tanah di Indonesia, serta hijaunya agrikultur Israel menjadi pemandangan yang khas dari negeri ini.
.
.
Kru memutar lagu lain. Astaga.. Poco Poco. Maka bergoyang poco-poco lah kawan-kawan. Dari mana kru punya lagu poco poco? Tanya saya pada guide kami, orang Yahudi yang fasih berbahasa Indonesia itu. Jangankan poco-poco, katanya. Pembangkit listrik yang kita lewati menuju danau ini bahkan menggunakan batubara dari Indonesia.
Tak terasa, perjalanan menikmati danau akhirnya selesai. Perahu kembali ke darat. Dengan sebuah pesan dari kru perahu: be an angel, rememper the crew.
.
.
Rememper?
.
- Esther Wijayanti -
anda Cukup menjadi manusia untuk bisa membenci israel sang pembunuh.
BalasHapus