Selasa, 03 Maret 2015

Ternyata Syiah Bukan Public Enemy

Kasus terorisme dan kekerasan atas nama agama di Indonesia sepanjang 2013 sejumlah 6 kasus, dengan jumlah korban 15 tewas, 12 luka. Termasuk di antaranya kasus Rudenim Medan dan kasus FPI Kendal. Sementara di seluruh dunia, sepanjang 2013, telah terjadi 2.801 serangan jihad di 51 negara, melawan 5 agama, dengan korban 16.710 tewas dan luka 29.432 luka. (sumber: annual jihad report).

Penggrebegan teroris Ciputat diperoleh sejumlah senjata api, bom rakitan, uang tunai hasil rampokan, daftar vihara yang akan dibom, rencana keberangkatan ke Suriah, serta buku jihad.

Target pengeboman vihara diduga kuat disebabkan pertikaian etnis Rohingnya di Myanmar, dan rencana keberangkatan ke Suriah diduga kuat karena pertikaian dengan Syiah.

Propaganda mensesatkan Syiah, menempatkan Syiah seolah public enemy, menempatkan Ahmadiyah seolah public enemy, mengharamkan ucapan Selamat Natal, mengharamkan Tahun Baru, mengutuki Budhist – pokoknya semua orang salah kecuali dirinya sendiri – mengental dalam kelompok-kelompok teroris yang bermuara pada tindakan destruktif.

Yang biasanya pasca penggrebegan teroris, para simpatisan teroris mengklaim didzolimi Densus88. Sebuah komplain yang melambai. Biasa menyerukan jihad, ayo perangi Syiah! ayo perangi Ahmadiyah! ayo perangi Bhudist! ayo perangi gereja tanpa IMB! tapi pasca grebeg Densus88 menjerit, “Aiiiiihhh…. kita didzolimiiii…!”

Tidak ada gangguan sosial yang bersumber dari jemaah Syiah. Tidak ada gangguan sosial yang bersumber dari jemaah Ahmadiyah. Tidak ada gangguan sosial yang bersumber dari perayaan natal. Tidak ada gangguan sosial yang bersumber dari para bhiksu.

Karena terbukti bukan jemaah Syiah yang punya bom rakitan, bukan jemaah Ahmadiyah yang punya daftar vihara dan gereja yang akan dibom, bukan jemaat Kristen yang merayakan natal dengan uang hasil merampok bank, bukan bhiksu yang menyimpan senjata api. Tapi teroris – yang ber-ideologi pokoknya semua orang salah kecuali dirinya sendiri.

Jika Pancasila salah. Jika negara salah. Jika agama lain sesat. Jika semua orang salah kecuali diri anda sendiri. Jika ideologi yang anda anut malah jadi gangguan sosial. Maka, justru andalah yang public enemy.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar