Membaca tulisan Ellen Maringka, berjudul Di Manado, Orang Jawa Dilarang Marah. Menyiratkan aura rasisme dikemas dalam kisah Ratih yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan orang Manado. Kesulitan Ratih yang bagi Ellen adalah lucu-lucuan. Lucu karena: terang saja orang Jawa susah beradaptasi dengan orang Manado, karena baik pembantu maupun supir, jelas lebih cakep dari orang Jawa. Itu baru tampang, belum soal nama. Orang Manado namanya lebih kebarat-baratan, lebih seperti majikan ketimbang nama pembantu.
Aura rasis yang menyeruak dari tulisan Ellen Maringka ini membuat saya membathin, Ellen Maringka sedang memicu sebuah pertikaian etnis di Kompasiana. Ternyata benar. Reaksi datang dari Catherine, yang juga merasakan lucunya Ellen Maringka mentertawakan kesulitan Ratih beradaptasi adalah hal tidak lucu sama sekali.
Nama kebarat-baratan orang Manado, bagi Ellen Maringka dan sebagian pembaca, identik dengan nama majikan. Sementara nama Jawa seperti Ratih, lebih cocok buat nama pembantu. Demikianlah yang terungkap dalam artikel tersebut.
Kemudian artikel Catherine mengakibatkan Catherine di-bully ramai-ramai oleh kawan-kawannya Ellen Maringka. Saya tidak bermaksud membela Catherine, karena saya juga tidak pas dengan artikel tersebut – namun saya tidak sempat membaca versi yang diremove admin. Maka saya memutuskan untuk menulis artikel ini. Dan menyatakan pendapat saya: memang benar artikel Ellen Maringka rasis. Dikemas secara halus, namun muatannya tetap sama. Gap antara nama, warna kulit dan wajah Menado - Jawa itu lucu di Menado.
Bagi saya, nama orang Manado yang kebarat-baratan tidak identik dengan majikan, dan nama kejawa-jawaan tidak identik dengan pembantu. Semata hanya karena saya memiliki sudut pandang berbeda: 1. orang Jawa berada di segala lini. Dari sultan-sultan hingga batur-batur, raja-raja hingga rakyat jelata. Semua memiliki kesamaan: membumi. 2. Orang bule (barat) tidak lebih hebat dari orang Indonesia karena rasnya. Oleh karenanya bagi anda, tidak perlu lah memanggil bule dengan sebutan Mister. Mereka bukan master, dan kita bukan slave. Not even maid. Not even lower level human. Kita bukan manusia dengan derajat lebih rendah karena warna kulit kita cokelat, dan warna kulit bule putih, sehingga kita me-mister-mister orang hanya karena warna kulitnya putih.
Bagi anda yang terganggu dengan artikel rasis Ellen Maringka ini, mari saya ajak anda untuk melihat latar belakang mengapa terjadi gap seperti dalam kisah yang dituangkan Ellen Maringka tersebut.
Warisan Belanda.
Belanda memang sangat rasis saat menjajah Indonesia. Jika anda melihat foto-fotonya, orang Belanda pakai baju bagus, pakai sepatu bagus. Sementara orang Indonesianya, apalagi yang di kampung-kampung, sangat primitif, banyak yang tidak pakai baju, yang pakai baju juga pakaiannya buruk, tidak pakai sandal, duduk di lantai atau tanah. Sementara Meneer dan Mevrouw duduk di kursi. Belanda menciptakan gap yang lebar antara Dutch dan Inlander (pribumi).
Tahun 1830 Belanda mengeluarkan dekrit pembentukan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger), yaitu tentara Belanda yang khusus ditempatkan untuk bertugas di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Pada awal abad 19, anggota KNIL adalah orang Belanda, serta tentara bayaran dari Jerman, Belgia dan Swis. Namun karena perang Aceh yang berlarut-larut, Belanda melakukan rekrutmen tentara dari Jawa, Ambon dan Manado. Serta tambahan dari suku Ashanti di Afrika (sekarang Ghana).
Selama masa Revolusi Nasional, prajurit KNIL masih merupakan gabungan antara Belanda dan pribumi. Namun, kebanyakan tentara yang lebih dipercaya Belanda adalah orang-orang Kristen dari Indonesia Timur, terutama Maluku Utara, Timor dan Manado. Sekalipun ada sejumlah tentara dari Jawa, Sunda dan Sumatera, serta tentara lain yang beragama Islam, namun tentara yang beragama Islam mendapat gaji yang lebih kecil dibandingkan tentara yang beragama Kristen. Gap yang diciptakan ini kemudian menimbulkan friksi antara tentara nasional dan pemerintah Indonesia yang didominasi oleh orang Jawa dengan KNIL, yang berujung pada dibubarkannya KNIL. (sumber: wikipedia).
Di waktu-waktu tersebut, hubungan antara orang-orang Kristen dari Indonesia Timur dengan Belanda, menimbulkan pembauran budaya, baik melalui pernikahan maupun kedekatan hubungan karena kesamaan agama. Nama-nama orang Manado menjadi Cindy, Susan, Pricilia, Linda, Celly, Tirza , Angel, bagi para wanita. Michael, Roy, Danny, Tommy, Johny, Alan, Jimmy, Jeffry, bagi para pria.
Cara berpakaian orang Manado sebelum kedekatan hubungannya dengan Belanda memakai kain dan kebaya, maka setelah abad 19, orang Manado memakai jas, long dress dan sepatu seperti meneer dan mevrouw Belanda. Sementara orang Jawa masih sama saja. Yang raja tetap raja, yang jelata tetap jelata. Namanya tetap Ratih, Yanti, Ayu, Ajeng, Dewi, Dimas, Joko, Ngatimin, Ngatiman, Sugirin, dan seterusnya. Tukang sampah komplek namanya Supardjo, menteri namanya Supardjo juga. Satpam namanya Joko, pejabat tinggi namanya Joko juga.
Sudut pandang relasi Belanda - Inlander mendasari kisah Ratih dalam artikel Ellen.Ratih punya pembantu. Seperti rata rata wanita Manado, sang pembantu berkulit putih, dan bernama Claudia. Masak seorang pembantu ditolak karena namanya kedengaran lebih “kebaratan dan keren” daripada majikannya?.
Majikan biasanya Belanda, pembantu biasanya Inlander.
Karena kebetulan momennya pas dengan kontroversi gelar kesultanan Jogja, sebagai kritik terhadap Mendagri, sambil menyisipkan counter artikel Ellen, saya menayangkan tulisan: Semesta Membela Kesultanan Jogja, Mitos atau Fakta?
Disitu saya tuliskan sejarah kesultanan Jogja, sebagai representasi Jawa. Serta bagaimana membuminya orang Jawa, dalam segala kebesaran karyanya yang mencapai Persia dan dataran Cina, dan monumen yang dibangun orang Jawa yang tetap eksis hingga sekarang: Borobudur. Siapapun yang menguasai Indonesia, kerajaan Jawa tetap ada. Rajanya tetap dihormati rakyatnya. Membuat saya tidak merasa, orang Jawa harus tersinggung namanya diidentikkan dengan pembantu. Sementara orang Manado yang namanya kebarat-baratan diidentikan dengan majikan. Karena sudut pandangnya memang berbeda.
Orang Jawa, dari dahulu hingga sekarang, sekalipun duduk di lantai, lebih tunduk pada Sultan ketimbang pada Meneer dan Mevrouw Belanda. Nama kebarat-baratan tidak ada keren-kerennya sama sekali bagi orang Jawa dibandingkan dengan BRM atau KGPH di depan nama seseorang. Sekalipun orang jawa punya majikan Belanda, namun rasa hormat orang Jawa kepada Sultannya jauh lebih besar daripada kepada majikannya.
Jangankan kepada Belanda yang (dianggap) majikan itu, mau gunung meletus menggelegar pun orang Jawa tidak bergeming sebelum Sultan memerintahkan mengungsi.
Jadi, Mevrouw Ellen Maringka.
Tulisan anda itu, mengungkapkan sebuah kisah orang Jawa dari sudut pandang relasi Dutch - Inlander. Nuansa rasisnya kental sekali, dikemas dalam sebuah kisah yang kebetulan cocok untuk merepresentasikan sudut pandang rasis tersebut. Orang Jawa yang benar-benar njawani, tentu tidak tersinggung, karena melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Mevrouw Ellen Maringka, orang Manado boleh marah. Orang Jawa, biar raja maupun jelata memang membumi. Bagaimana pembangunan Indonesia bisa terjadi kalau tidak ada tukang-tukang bangunan berkulit cokelat tua dari Jawa? Emangnya Michael, Roy, Danny, Tommy, Johny, Alan, Jimmy, Jeffry pada mau dikirim ke seluruh Indonesia untuk jadi tukang bangunan?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar