Gambar: CNN.com
.
Pekan Kondom Nasional yang digagas Kementerian Kesehatan yang dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menuai kontroversi dari lembaga-lembaga berbasiskan Islam.
Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), melalui Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Muhammad Sulton Fatoni dengan tegas menolak acara bagi-bagi gratis kondom.“Umat Islam jangan terlibat dalam kegiatan tersebut,” katanya. Memfasilitasi sama juga dengan membantu. Dia juga meminta kepada Menkes Nafsiah Mboi lebih arif dalam mengambil kebijakan, mau mendengar saran, dan bisa bekerja lebih substantif. “Kami mencatat, sejak dilantik pada bulan Juni 2012, apa-apa yang dikerjakan tak lain hanya sebuah kontroversi,” kata Sulton. Sumber DISINI
Benarkah Menteri Kesehatan tidak mengerjakan apa-apa selain kontroversi?
Sementara itu, Muslimat Nahdlatul Ulama meminta pemerintah membatalkan Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan Menteri Kesehatan dan dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) serta salah satu produsen kondom.“Muslimat NU meminta keputusan tersebut segera dicabut,” kata Ketua Umum Pucuk Pimpinan Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. “Menko Kesra dan Presiden RI saya harapkan mencabut Pekan Kondom Nasional,” kata Khofifah. Sumber DISINI.
Indonesia, adalah salah satu negara dengan kecepatan penyebaran HIV/AIDS tertinggi di Asia. Menurut UNAIDS, jumlah penderita AIDS di Indonesia diperkirakan berjumlah 610.000 jiwa, dan jumlah meninggal karena AIDS sebesar 27.000 jiwa pada tahun 2012. Jumlah ini adalah jumlah yang sangat serius. Dari data penularan HIV/AIDS dunia yang dilansir CNN, maka penularan HIV tertinggi adalah akibat hubungan sex tanpa kondom. Sehingga, penularan HIV/AIDS tidak bisa dicegah dengan bertobat, tapi dengan pakai kondom.
Pernyataan-pernyataan NU menolak Pekan Kondom Nasional, menggiring masyarakat muslim untuk berkesimpulan bahwa bagi-bagi kondom sama dengan menyetujui dan/atau menfasilitasi sex bebas. Hal ini bertentangan dengan agama. Sehingga timbullah kontroversi hingga unjuk rasa di berbagai tempat.
Pernyataan tersebut sangat janggal jika kita kita melihat laporan ini:
.
Sumber: Global Fund. Gambar di atas adalah laporan penggunaan dana bantuan dari Global Fund kepada Nahdlatul Ulama, dengan Grant Number: IND-910-G15-H, dengan total bantuan untuk HIV/AIDS sebesar US$ 2,966,594.
Untuk menanggulangi AIDS di Indonesia, pemerintah Amerika mendonasikan sejumlah dana serta mengadakan berbagai program penanggulangan HIV/AIDS via USAID, yang pada tahun 2011 digelontorkan sebesar USD 5.5 juta. SementaraUS President’s Emergency Plan for AIDS Relief bekerjasama dan mendonasikan dana hibahnya kepada National AIDS Commission (NAC), Kementrian Kesehatan, dan Nahdatul Ulama (Sumber: PEPFAR – US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), diturunkan via The Global Fund. Untuk Nahdatul Ulama sendiri, dana yang diturunkan sebesar hampir 3 juta Dollar Amerika, atau tepatnya US$ 2,976,995, dengan program memerangi HIV, TBC dan Malaria, sementara porsi HIV/AIDS sebesar US$ 2,966,594.
.
Sumber: The Global Fund. Kontrak The Global Fund dengan Nahdlatul Ulama.
.
Gambar di atas adalah halaman pertama kontrak kerjasama penanggulangan HIV/AIDS antara NU dan The Global Fund yang menyatakan bahwa NU menerima dana sebesar USD 2,976,995 untuk memerangi HIV/AIDS. Program ini terdiri dari dua periode. Periode 1 dimulai 1 Juli 2010 – 30 Juni 2012 dilanjutkan Periode 2 yang berakhir 30 Juni 2015.
Kerjasama ini sama sekali bukan kerjasama keagamaan. Sama sekali bukan biaya dakwah sex halal. Namun kerjasama medis untuk memerangi HIV/AIDS dengan target: 1. Pekerja Sex Komersial (PSK), 2. Pengguna narkoba dengan jarum suntik, 3. Tahanan, 4. Pria dengan Pria, serta 5. Pria dengan Waria.
.
Sumber: The Global Fund. Terlihat dalam laporan, bahwa NU juga membagikan kondom.
.
Dalam kontrak juga dilampirkan progress yang telah dilakukan, dimana NU dalam mencegah penularan HIV/AIDS juga melakukan tindakan pencegahan sesuai prosedur kesehatan, diantaranya membagikan kondom (lihat kata yang di-highlight dalam gambar di atas).
Anda ingin membaca kontrak antara The Global Fund dengan Nahdlatul Ulama? Ada DISINI
Mengapa PBNU menyerukan agar umat Islam tidak turut serta dalam kegiatan membagikan kondom, sementara NU sendiri membagikan kondom? Menolak kegiatan Pekan Kondom Nasional yang digagas Kementrian Kesehatan, sementara NU sendiri melakukan kegiatan yang sama, tujuan sama, material sama, sumber dana sama dengan Kementrian Kesehatan dan NAC?
Kelihatannya PBNU malu-malu untuk mengakui, bahwa NU menggunakan ilmu kedokteran untuk memerangi penularan HIV/AIDS. Malu-malu untuk mengakui, bahwa virus HIV/AIDS menyebar lebih cepat daripada proses pertobatan seseorang. Sehingga, mau tidak mau, memang kondom lah solusi bagi pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS.
Mari saya berikan analogi: penggunaan helm bukan tindakan untuk menyetujui naik motor ugal-ugalan. Menggunakan kondom bukan tindakan untuk menyetujui sex bebas.
Jika PBNU diam-diam juga sudah membagikan kondom, kenapa tidak dukung Kementrian Kesehatan dan National AIDS Commission dalam mensukseskan Pekan Kondom Nasional?
Ayo dukung NU bagi-bagi kondom gratis!
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar