Minggu, 01 Maret 2015

Ternyata Betawi Eksis di Israel

Tidak berlebihan jika ada orang Israel mengatakan pada saya, Indonesia satu negara dengan tiga ratus bahasa daerah, sementara Arab ada banyak negara dengan satu bahasa saja. Membuat saya jadi tahu, bahwa bangsa lain kagum dengan kekayaan budaya dan bahasa Indonesia.

Setelah tulisan saya Menemukan Doa Bapa Kami Berbahasa Palembang di Yerusalem, saya ajak anda melihat Yardenit. Ini adalah tempat dimana Yesus dibaptis di sungai Yordan. Letaknya di utara Israel, dekat danau Galilea, dimana telah saya posting tulisannya dalam Wah Bendera Indonesia Berkibar di Israel.

Di sini, saya juga menemukan ayat tentang baptis, dimana bahasa-bahasa tradisional Indonesia dipajang besar-besar. Saya memahaminya sebagai bentuk apresiasi pemerintah Israel terhadap budaya bangsa Indonesia.

.

1385820306663197178

.

1385820539317219970

Di tempat ini, orang-orang Kristen dari seluruh penjuru dunia datang untuk dibaptis, atau melakukan peneguhan pembaptisan. Baptis, adalah sebuah simbol, dimana jiwa seseorang harus mati (masuk ke dalam air) lalu bangkit kembali (keluar dari air) sebagai jiwa yang baru.

.

13858208191581812183

Panel ini menjelaskan, bahwa seluruh panel di area ini didedikasikan untuk orang-orang Kristen di seluruh dunia.

.

13858210301296798236

Panel ini bertuliskan ayat dimana disebutkan, bahwa Yesus juga dibaptis.

.

13858211772002889805

Ayat tersebut ditranslasikan ke dalam bahasa Betawi. Lucu juga..

.

1385821309695223744

.

13858214171419053078

.

13858215262054124753

.

13858216622128953952

.

13858217621259959229

Saya senang melihat panel-panel berbahasa tradisional Indonesia ini. Rasanya excited.

.

1385821897786447201

Sementara, sungai Yordan sendiri adalah sungai yang indah, bersih dan tenang, tempat baptisnya bukan di sisi ini.

.

13858221171410589985

Kalau tangan baru mendekat ke air, masyarakat sungainya sudah mengerubungi begini, bagaimana mau nyemplung buat dibaptis? kira-kira ikannya nggigit nggak ya?

.

Note: seluruh foto milik sendiri.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar