Mengurus dokumen di kelurahan, pandangan saya tertuju pada seorang hansip yang lari ke gerbang kelurahan. Saya kira ada apa, ternyata ada ibu-ibu staff kelurahan datang dengan bajaj. Dua hansip menyambut, membukakan pintu bajaj. Si ibu turun, memberikan tas berisi tempat makan siangnya kepada hansip untuk dibawakan. Maka masuklah ibu itu ke kelurahan diikuti pak hansip yang membawakan tas nya.
Wah, gaya si ibu ini sudah kayak kanjeng ratu.
Duduk bersama dengan seorang perwira polisi, dia menyuruh anak buahnya membelikan lumpia untuk saya. Tak lama kemudian, sang anak buah kembali, membawa lumpia pesanan komandan. Ternyata salah toko. Yang dimaksud adalah lumpia toko sebelahnya. Anak buah minta maaf. Ya sudah. Beberapa saat kemudian, komandan pergi meninggalkan ruangan, sang anak buah buru-buru menghampiri saya, lalu meminta maaf pada saya atas kesalahan pembelian lumpia tadi. Cara meminta maafnya juga seolah dia melakukan kesalahan yang sedemikian besarnya sehingga sampai nunduk-nunduk begitu. Saya heran. So what? Ini hanya lumpia. Kenapa merasa bersalah dan meminta maaf seperti itu?
Masak polisi disuruh beli lumpia. Itu kan kerjaannya office boy..
Menelepon seorang teman tidak diangkat. Tak lama kemudian dia menelepon balik. Katanya habis mengantar bos belanja, jadi dia sibuk, membawakan belanjaan. Wah, kantor mau ada acara apa nih? Kata saya. Dia jawab, bukan untuk kantor, itu belanja kebutuhan pribadi. Memang biasa begitu, kalau bos belanja memang dia bagian nyetir, lalu bawakan belanjaan. Hlo, teman saya ini kan staff kantor, bukan supir, bukan pula ajudan.
Masak wakil manajer ngangkat belanjaan pribadi manajer. Itu kan kerjaannya office boy..
Pak Waka (Wakil Ketua) punya kolam ikan baru. Seorang teman, staff administrasi minta diantar beli ikan untuk ditaruh di kolam ikannya pak Waka. Apa urusannya staff administrasi belanja ikan buat rumahnya Pak Waka?
Masak staff administrasi disuruh beli ikan..
Kejadian-kejadian tersebut adalah yang saya temui di lingkungan saya. Sebagai orang swasta, urusan kantor dan urusan pribadi tidak bisa disatukan. Staff digaji bekerja untuk perusahaan, tidak bisa disuruh-suruh untuk mengurusi urusan pribadi. Karena tidak dibayar untuk itu. Semua pada jalur job descriptionnya.
Namun tidak demikian yang saya lihat dengan PNS dan Polri di lingkungan saya. Atasan bisa diperlakukan seperti raja. Dibawakan tas, dibukakan pintu, disupiri. Gayanya sok priyayi. Bawahan bisa dipekerjakan melenceng dari job descriptionnya. Bawa tas, hingga membelikan lumpia.
NORAK SEKALI
Tapi itu di lingkungan saya. Bagaimana dengan PNS dan Polisi di lingkungan anda? Apakah norak juga?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar