Selasa, 24 Februari 2015

Apakah Kartini Membahayakan?

13665453371291566686
Sumber: lectrr.com

Waktu Tuhan menciptakan manusia, konon namanya Adam dan Hawa, dua-duanya telanjang. Bukan satunya telanjang, satunya ditutupi daun. Diciptakan satu pria, satu wanita. Bukan satu pria dengan banyak wanita.

Satu pria, satu wanita. Sama-sama telanjang.
Artinya, Pria dan wanita diciptakan sama.

Adam dinikahkan Tuhan dengan satu wanita bernama Hawa. Hawa dinikahkan Tuhan dengan satu pria bernama Adam. Adam tidak dikondisikan agar berpoligami. Hawa tidak dikondisikan agar berpoliandri. Satu sama satu. Sama-sama telanjang.

Waktu mereka jatuh ke dalam dosa, keduanya sama-sama dipakaikan baju oleh Tuhan.
Artinya, Tuhan memperlakukan pria dan wanita sama.

Yang membedakan antara pria dan wanita hanya satu : Alat Reproduksi. Itu saja. Kemampuan berpikir, kemampuan bekerja, kemampuan memimpin. Sama.
Pria dan wanita sama-sama memiliki potensi untuk jadi baik, jahat, pintar maupun bodoh. Sama.

Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran kesetaraan. Rasa ingin dianggap lebih tinggi derajatnya membuat pria menggunakan berbagai cara untuk menempatkan wanita sebagai warga kelas dua, dengan bahasa: untuk memuliakan wanita. Seolah wanita bisa dibodohi dengan kata-kata tersebut.

Banyak pria memang demikian. Inginnya menegakkan syahwat (baca: ego). Membusungkan dada satu dengan yang lain. Lihatlah peperangan di seluruh dunia, semua dipicu oleh ego pria. Lihatlah berbagai pertikaian yang terjadi, semua dipicu oleh ego pria.

Pria ingin jadi raja. Mengatur sana mengatur sini. Dunia sudah seperti rimba. Siapa yang berotot, dia yang menang. Kebetulan, perempuan tenaganya lebih sedikit. Karena faktor perbedaan alat reproduksi itu. Jadilah bulan-bulanan. Diatur cara duduknya, diatur cara berpakaiannya. Dibuatlah institusi yang bertugas menangkapi wanita yang tidak taat pada peraturan pria. Kalau perlu, nama Tuhan dibawa-bawa, lalu wanita diancam-ancam masuk neraka jika tidak tunduk pada peraturan pria.

Saya menyebut hal ini sebagai peraturan pria. Lihatlah apa yang belum lama ini terjadi di Arab sana. 3 pria dideportasi karena ganteng. Dikuatirkan bisa jadi rebutan para wanita. Padahal, pria ganteng jadi tidak menarik bagi wanita kalau dia homo. Artinya, peraturan ini adalah peraturan yang dibuat oleh pria.

Wanita, pada hakekatnya adalah pilar peradaban. Seperti yang dikatakan Kartini,

Jika dengan sebenarnya hendak memajukan peradaban, maka haruslah kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan. Dan siapakah yang lebih banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu, siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia? Ialah perempuan, ibu, karena pada haribaan si ibu itulah manusia itu mendapat didikannya yang mula mulanya sekali, oleh karena di sanalah pangkal anak itu belajar merasa, berpikir, berkata. Dan didikan yang pertama-tama sekali, pastilah berpengaruh bagi penghidupan seseorang. (Surat kepada Nyonya Ovink-Soer, awal tahun 1900).
Ada begitu banyak pernyataan bahwa Kartini tidak layak dijadikan pahlawan. Dihubung-hubungkan dengan bentukan Belanda hingga Yahudi. Apapun latar belakang seorang Kartini, beliau adalah pahlawan dalam pemikiran. Kartini berjuang mengembalikan wanita Indonesia pada kodratnya: setara dengan pria.


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar