Jumat, 27 Februari 2015

FPI Musuh Bangsa Indonesia

Seorang Presiden, mewakili sebuah negara. Saat Presiden Yudhoyono menerima The World Statesman Award, dari Appeal of Conscience Foundation, itu berarti penghargaan untuk Pemerintah Republik Indonesia. Bukan untuk Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pribadi.

Demikian juga saat Habib Rizieq menyatakan di hadapan publik, “Kasihan, ternyata SBY bukan seorang negarawan yang cermat dan teliti dalam menyoroti berita. Tapi hanya seorang pecundang yang suka sebar fitnah dan bungkam terhadap maksiat. Seorang presiden muslim menyebar fitnah dan membiarkan maksiat, ditambah lagi melindungi Ahmadiyah dan aneka mega skandal korupsi, sangatlah mencederai Ajaran Islam,” . Dalam hal ini, Habib Rizieq telah menghina Presiden Republik Indonesia, yang juga berarti menghina bangsa Indonesia.

Apalagi, dalam aksinya menghina Presiden, Pemerintah dan Rakyat Indonesia, Habib Rizieq menggunakan pakaian tradisional bangsa asing. Dimana sesuai pernyataan Presiden, bahwa tamunya dari Timur Tengah keberatan dengan aksi FPI. Karena FPI merugikan dua hal. Satu merugikan Islam, Islam tidak begitu. Kedua, merugikan Arab, karena menggunakan pakaian Arab.

Saya, tumbuh besar di Indonesia, dengan presidennya Soeharto. Dulu, saya tidak tahu presiden lain, tahunya Presiden Soeharto. Ada satu hal yang saya ingat dari beliau. Jika beliau bicara di publik, apa yang dikatakan pasti terjadi. Jika beliau bicara agar masyarakat desa diajari memproduksi susu sapi, maka pada kunjungan kedua beliau ke desa tersebut, duduk di dekat sawah, dengan bangunan dadakan bertiang bambu ber atap gubuk, ibu-ibu desa sudah bisa kasih laporan: susu saya sapi. Maksudnya, saya sudah memproduksi susu sapi. Kalau Presiden Soeharto mengecam ketidak amanan, maka: tiba-tiba negara jadi aman.

Perkataan Presiden Soeharto, menggerakkan seluruh bawahannya untuk melaksanakan perkataan tersebut. Sehingga setiap Presiden Soeharto menyatakan sesuatu, kita tahu, pasti hal tersebut akan terjadi.

Namun saat ini, jika Presiden Yudhoyono menyatakan suatu hal, tidak ada bawahan Presiden, aparat, lembaga apapun, maupun masyarakat yang terlihat bergerak menjalankan perkataan Presiden untuk jadi kenyataan. Tidak terjadi apa-apa. Jika Presiden menghimbau agar masyarakat bertoleransi, maka: tidak terjadi apa-apa. Saat Presiden Yudhoyono mengecam FPI, maka: tidak terjadi apa-apa. Malah Presiden dihina.
Mengapa Presiden Republik Indonesia melakukan pembiaran ormas anarkis ini menghina Presiden yang berarti menghina bangsa Indonesia?

Presiden Yudhoyono, memang bukan Presiden Soeharto. Namun bangsa Indonesia, adalah bangsa yang sama. Siapapun Presidennya. Kita tetap Bangsa Indonesia. Bangsa yang memilliki kehormatan, tidak boleh ada orang yang seenaknya sendiri menghina Presiden Republik Indonesia. Itu artinya menghina bangsa Indonesia.

Siapapun yang menghina bangsa Indonesia, adalah musuh bangsa Indonesia.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar