Alkisah, di negeri Gemah Ripah Loh Jinawi, dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman, alamnya yang indah, hutannya yang permai, sungainya yang damai. Bersemayamlah Partai Adilun wan Barokah menguasai segala rempah-rempah dan ternak. Wak Hasan, Presiden Partai Adilun wan Barokah berbadan gemuk perutnya buncit. Kata tukang becak dari negeri seberang, “gravity never lie” artinya gravitasi tidak pernah bohong. Kalau tidak pernah berolah raga dan tidak rajin berpuasa, badan pasti gemuk, perut pasti buncit. Padahal wak Hasan adalah orang yang soleh, dermawan dan rajin berdakwah.
Dalam menguasai rempah-rempah dan ternak, wak Hasan punya teman. Namanya mas Wono. Keduanya, ingin semuanya barokah. Rakyat barokah, wak Hasan dan mas Wono juga barokah. Tapi tongkat kayu dan batu tidak bisa jadi tanaman kalau dipelototin doang. Harus ditanam dan diberi pupuk. Orang-orang pintar dari sekolah bercocok tanam diajak jadi orang soleh. Orang hidup harus mikir mati. Ayo kita beribadah. Orang-orang pintar dari sekolah bercocok tanam ini tidak membantu mak Ciblon dan pak Ciplus. Tidak mengajari bagaimana caranya menanam bawang dan menggemukkan sapi. Jadilah negeri Gemah Ripah Loh Jinawi beli daging dari negeri seberang. Tapi, kan kita perlu swasembada pangan. Gitu kata orang orang. Jadi, kita produksi sendiri, jangan beli dari negeri seberang. Jalan mereka untuk masuk surga saja beda, masak kita mau beli sapi terus terusan dari mereka?
Mas Wono menghitung sapi rakyat. Satu, dua, tiga.. seratus, sejuta, seratus juta, lalu bilang ke tukang tukang tinta. “Wahai Rakyatku negeri Gemah Ripah Loh Jinawi, negeri kita aman dari krisis daging, karena stok sapi nasional lebih dari cukup.” Katanya. Pak Ciplus bingung. Sapi miliknya yang diangoni tiap hari, yang dia pakai buat tabungan kalau anaknya mau masuk perguruan tinggi nanti, kok dibilang stok sapi nasional? “Oleh karena stok sapi nasional lebih dari cukup, maka kita tidak impor sapi” Kata mas Wono lagi. Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi berhenti impor sapi.
Hla sapi wong cilik kok dibilang sapi nasional. Pak Ciplus nggak mau dipotong sapinya. Pak Ciprit juga nggak mau. Nanti saja, saya potong sapi saya kalau saya mantu. Katanya. Nggak ada yang mau dipotong sapinya. Akibatnya sapi di pasar nggak ada. Mang Dudung tukang bakso bingung. Mau jualan bakso apa ini kok nggak ada yang jualan daging sapi? Uda tukang rendang juga bingung. Baru aja kemaren bangga rendangnya dibilang rendang paling enak di dunia, masak daging sapinya nggak ada?
Kisruh gonjang ganjing perdagingan, dirasa perlu impor daging sapi lagi nih. Adalah kangmas Fatah dicokok hulubalang anti korupsi. Lagi asyik masyuk di hotel sama abege. Bawa sekardus korma. Katanya kurma punya wak Hasan, untuk memuluskan impor sapi.“Assalamualaikum Akhi, korma satu kardus sudah ana terima. 10 biji ana ambil untuk vitamin unta kita, sebagai kendaraan jihad”. Wak Hasan dicemplungi ke bui juga. Kurang ajar ini hulubalang. Masak presiden partai dicemplungi ke bui.
Adalah Mister Geoff Bull, dari Usaha Dagang Allegro Export yang kantornya di Fremantle, di negeri seberang. Mencak-mencak. Bulan Juli tahun kemarin 118 kontainer daging sapi ditahan di pelabuhan di ibukota Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi. Padahal surat ijin impornya sudah ditandatangani menteri bagian impor. 23 kontainer daging sapinya dari toko dia. Jadi, Mister Geoff Bull rugi satu juta dollar untuk bawa pulang lagi daging sapinya. 118 kontainer daging sapi kalau busuk di pelabuhan kan satu ibukota bau semua. Kena bakteri semua. Rakyat kota bisa sakit semua dirubung belatung.
Belum lagi Mister Bull pakai didatangi tukang-tukang hitung temennya hulubalang anti korupsi. Namanya badan pemeriksa keuangan. Gara-gara presiden Partai Adilun wan Barokah, saya jadi diinterogasi. Katanya sambil mencak-mencak. Tapi Mister Geoff Bull dengan senang hati membantu tukang hitung ini. “Rasakno..” katanya.
Masih sambil ngomel, mister Bull bilang, “Urusan ekspor sapi bukan mainan untuk anak-anak”. Waaahhh…. Presiden Partai Adilun wan Barokah udah tua gitu kok dikatai masih anak-anak. Mungkin seharusnya Mister Bull ekspor banteng, bukan ekspor sapi.
Sementara di sudut sana, mbak Ayu yang tinggi semampai tersenyum manis sekali. Aaaahhhhh……
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar