Jumat, 27 Februari 2015

Pengalaman Memakamkan Manula Tanpa Keluarga

Jam 3 pagi, HP ibu saya berbunyi. Seperti biasa, kalau ada telepon di jam tidak wajar begini, ada oma meninggal di Panti Werdha / Jompo yg dipimpin ibu. Namanya juga panti jompo, setiap bulan selalu ada yang meninggal.

Pagi2, ibu mendiskusikannya dengan saya. Oma yang meninggal ini, sebut saja namanya oma Amira, tidak punya saudara. Dititipkan di panti oleh ketua RT di lingkungannya. Secara prosedural, jika tidak ada keluarga yang mengambil, maka mayatnya harus dikirimkan ke RSCM. Tentu saja saya keberatan. Takut kalau mayat oma Amira dibeli mahasiswa sekolah kedokteran buat praktek. Ibu saya hanya berkomentar, “hla kan bagus, sudah meninggal masih berguna bagi ilmu pengetahuan”. Waduh..

Maka pagi itu, sibuk-sibukan. Pagi-pagi menghubungi penanggung jawab oma Amira, pak RT. Kami malah dapat kabar baik. Ternyata Oma Amira punya saudara! Pak RT segera ke panti bersama saudaranya oma Amira.

Namun, kegembiraan berubah jadi kekecewaan tatkala saudaranya oma Amira menolak mengurus mayat oma Amira. Katanya, “Saya ini sudah terlambat ke kantor gara-gara kesini. Saya nggak mau bawa pulang mayat. Terserah ibu saja mau diapakan itu mayat. Saya nggak mau keluar biaya, saya nggak mau tanda tangan apa-apa”. Wah, galak bener. Akhirnya kami minta kuasa menguburkan. Saudaranya oma Amira setuju. Lalu pergi.

Mayat segera dikirim ke kamar mayat rumah sakit langganan. Panti Werdha kita memiliki daftar tunggu antrian donatur pemakaman. Mereka adalah orang-orang yang menyatakan kesanggupan membiayai pemakaman, jika keluarga oma panti tidak mampu membiayainya.

Donatur yang pertama kami telepon langsung menyanggupi biaya pemakaman dan datang segera ke panti, sementara oma Amira dimandikan di kamar mayat Rumah Sakit. Sekarang kami sibuk mencari pakaian apa yang pantas dipakaikan ke oma. Karena oma tidak punya baju bagus. Daster semua. Akhirnya, perawat (bukan nurse) yang biasa memandikan oma menyumbangkan pakaiannya. Wah, baik sekali.

Tapi, ternyata pihak rumah sakit selain menyediakan layanan pemakaman juga menjual pakaian buat mayatnya. Oma Amira dibelikan baju baru, warna putih seperti malaikat. Dibedaki, didandani cantik. Namanya juga pulang kepada Tuhan, pakai baju yang bagus, sepatu bagus, dandan yang cantik.

Akhirnya oma Amira bisa dimakamkan sekalipun dengan upacara sederhana. Tidak jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran.

Selamat jalan oma cantik…

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar