Max Weber dan Ernst Troeltsch (1931) mendeskripsikan sekte sebagai kelompok yang terbentuk untuk memprotes kelompok asalnya dengan tuduhan murtad atau sesat. Memiliki dogma utama untuk kembali pada agama yang sejati, serta memprotes liberalisme. Sementara sosiolog Rodney Stard dan William Sims Bainbridge menegaskan, bahwa sekte-sekte mengklaim dirinya sebagai kelompok otentik (asli) yang bersih, memiliki iman yang telah diperbaharui (iman yang lebih tinggi) - Wikipedia
Biasanya sekte memiliki tingkat ketegangan yang tinggi dengan lingkungan sekitarnya, disebabkan tindakan anggota sekte yang membangun praktek-praktek yang menegaskan batas pemisah antara anggota sekte dan lingkungannya.
Sekte bisa merupakan kelompok keagamaan atau politik. Memiliki ketaatan yang ketat terhadap doktrin atau gagasan, sekalipun doktrin maupun gagasan tersebut sudah tidak relevan lagi terhadap realitas yang berubah. Keagamaan dan Politik yang dipadukan dalam sebuah sekte, akan menghasilkan penganut yang taat karena nama Tuhan digunakan sebagai sentral dalam ketaatan tersebut.
Batas pemisah yang dibangun antara sekte dengan pihak luar biasanya ditandai dengan pelabelan yang membedakan antara sekte dengan kelompok luar. Seperti, kelompok kami adalah kristen sesungguhnya, di luar kami bukan kristen.
Kelompok kami yang otentik, di luar kami tidak otentik. Kelompok kami paling benar dalam menjalankan ajaran, di luar kami bid’ah. Kelompok kami memiliki level iman yang lebih tinggi, di luar kami kafir. Kelompok kami muslim, di luar kami non muslim. Kelompok kami pasti masuk surga, di luar kami pasti masuk neraka. Kami adalah umat Allah, di luar kami bukan umat Allah.
Sekte-sekte ekstrim yang memposisikan diri lebih tinggi, bahkan bisa menganggap orang di luar sekte boleh dibunuh. Harta milik pihak di luar sekte boleh dirampas, diambil maupun dikorupsi.
Pernahkah anda dengar NU melabeli non NU dengan sebutan kafir? Saya tidak pernah dengar. Pernahkah anda dengan Muhammadiyah melabeli non Muhammadiyah dengan sebutan kafir? Saya tidak pernah dengar. Artinya, baik NU maupun Muhammadiyah adalah contoh sebuah organisasi, bukan sekte.
Labelisasi seperti ini hanya dapat kita temukan diucapkan oleh kader PKS. Melabeli orang lain dengan sebutan kafir, non muslim, haters, bid’ah dan sebagainya. Kelompok yang memposisikan dirinya sebagai kelompok yang lebih tinggi dari pada yang lainnya. Apakah hanya kader PKS yang memposisikan diri lebih tinggi dari orang lain? Ternyata tidak. Belakangan ini kita dengar istilah “PKS menghibahkan 3 orang menterinya kepada Pemerintah”.
Menunjukkan bahwa PKS memposisikan diri sebagai kelompok yang lebih beriman, lebih mendapatkan limpahan rizki dari Allah. Sementara 3 orang menterinya, tersirat sebagai dianggap sudah bukan anggota kelompoknya lagi, sehingga derajatnya setara barang. Yang oleh karena level iman pemilik barang lebih tinggi, maka barang yang berupa 3 menteri ini dihibahkan kepada pemerintah, sebagai fakir yang akan lebih terbantu hidupnya jika menerima hibah tersebut.
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Alhamdulillah, PKS sudah menghibahkan 3 menterinya. Semoga barokah.
Secara institusi, PKS menunjukkan ciri sebuah sekte sebagaimana dalam definisiMax Weber dan Ernst Troeltsch serta Rodney Stard dan William Sims Bainbridge. Belum lagi jika kita menyimak testimoni Arbania Fitriani mengenai hidden agenda PKS. Di situ jelas sekali, bahwa pola rekrutmen PKS adalah pola rekrutmen sekte. Oleh karenanya, jika mengacu pada definisi-definisi tersebut, maka PKS adalah sekte. Sekte PKS.
Dalam tulisan saya Pengalaman Saya Bergabung Dalam Sekte dan Bagaimana Saya Bisa Keluar Dari Sekte , saya memberikan gambaran pada anda, bagaimana seseorang tanpa disadari dapat direkrut untuk bergabung pada sebuah sekte, serta bagaimana cara keluar dari sekte.
Tidak semua sekte berbahaya. Namun jika anda dapati sekte PKS memiliki agenda melanggar UU sekalipun mengatas namakan Tuhan, mulailah menggunakan akal sehat anda: PKS dan Tuhan tidak ada hubungannya sama sekali. Segeralah keluar dari sekte.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar