Jumat, 27 Februari 2015

Mengenali Bahasa Sekte PKS: Santai Saja Bro!

Seperti tulisan-tulisan saya mengenai sekte sebelumnya, saya menerangkan, bahwa sekte memiliki ciri utama eksklusif.Membangun batas antara kelompok sekte dengan pihak luar. Anggota sekte seringkali merasa memiliki derajat keilahian, sementara kelompok luar adalah golongan neraka. Anti pada liberal, dan fokus pada doktrin dan dogma yang seringkali sudah tidak relevan.

Pelabelan terhadap kelompok di luar sekte, juga diberikan kepada anggota kelompok sekte yang dianggap menyimpang. Anggota yang dianggap salah, atau melakukan penyimpangan akan dikucilkan, dilabeli, dan dianggap rendah.

Lihat saja bahasa yang muncul dalam tubuh PKS terhadap 3 menterinya:dihibahkan kepada pemerintah. Menunjukkan bahwa derajat kerohanian anggota sekte lebih tinggi, sementara pemerintah adalah fakir. Dimana 3 menteri ini hanya barang semata, bukan sesama manusia. sehingga bisa dihibahkan begitu saja.

Bahasa berikutnya yang muncul dari tubuh PKS adalah: santai saja bro!

Kalimat ini diucapkan oleh wasekjen PKS Mahfudz Siddiq terhadap Tifatul Sembiring. Menunjukkan bahwa Tifatul sudah dianggap orang luar sekte yang komunitasnya bersama dengan orang kafir, bukan orang suci lagi. Sapaan “Ustad” atau “Sheikh” sudah diganti menjadi “Bro”.

Sebuah penghinaan hingga level dasar. Intimidasi kepada kelompok Tifatul. Bermakna anda selevel orang kafir, oleh karenanya dipanggil Bro, tidak pantas lagi dipanggil “Ustad”, “Sheikh”, atau “Ji” sebagai sapaan akrab seseorang terhadap “pak Haji”.

Terlebih statemen tersebut muncul karena kekecewaan Tifatul terhadap sikap yang diambil PKS dalam menyikapi rencana kenaikan harga BBM. “Santai saja bro!” –“perasaan anda tidak ada artinya lagi bagi partai. Jadi santai aja bro, ngapain juga orang luar turut punya perasaan terhadap internal partai”.

Cara pandang seperti ini merupakan bahaya laten. Di luar kelompok memiliki derajat rendah serendah-rendahnya. Lebih rendah dari ciptaan Tuhan. Selevel barang. Selevel kafirun, sehingga sapaan hormat kerohanian sudah tidak pantas dikenakan lagi. Berpotensi dianggap pantas menerima laknat dari “hamba Allah” yang model bagaimana jika levelnya sudah seperti ini?

Santai saja bro !
.

- Esther Wijayanti -
.


Artikel Terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar