Entah kapan istilah ini mulai digunakan, namun istilah konsumen adalah raja adalah pembohongan dan pembodohan. Menjadikan orang serasa hidup di awang awang. Meliarkan hayalan untuk dilayani bagaikan raja. Hayalan yang merasuk sukma dan membias menjadi tindakan.
Bangunlah dari mimpi.
Jeloto tetaplah jeloto. Jeloto naik pesawat terbang tidak akan membuat jeloto menjadi raja. Tidak sama sekali.
Jeloto tetaplah jeloto. Jeloto nginap di hotel bintang lima tidak akan membuat jeloto jadi raja yang menikmati goyangan para selir.
Latar belakang budaya kerajaan-kerajaan Indonesia membuat para jeloto yang letih dengan kemiskinan berkepanjangan membayangkan nikmatnya jadi raja. Bergelimang harta. Bergelimang penghormatan. Bergelimang kenikmatan. Sehingga, pada saatnya tiba, hayalan itu bisa diwujudkan, kapan lagi jadi raja? Kesempatan untuk merasakan jadi raja harus diraih, apakah itu pakai uang sendiri, atau uang negara.
Mengingatkan saya pada sebuah dialog, antara saya dengan seseorang di ujung telepon sana.
Customer : “Bu, saya mau beli komputer. Ini tanpa tender. Karena ini anggaran dua tahun lalu belum dibelanjakan”
Saya : “Kok bisa, anggaran dua tahun lalu belum belanja?”
Customer: “Ada sedikit problem bu. Nanti saya email spesifikasinya ya..”
Saya: “Saya sudah tau spesifikasi dua tahun lalu pak..”
Customer: “Oke, kalau begitu, emailkan penawarannya ke saya. Tapi saya tidak mau beli kalau diskonnya nggak 40%, dan diskon tambahan untuk kami seorang 1%, total 3%. Kalau bisa digenakan jadi 45% akan lebih baik. Harga termasuk pengiriman barang sampai lokasi.”
Saya: “Dimana lokasinya pak?”
Pak juragan menyebut sebuah tempat, kira-kira 12 jam perjalanan darat dari ibukota propinsi.
Customer: “Saya tunggu penawarannya ya bu, segera nggak pakai lama”
Saya : “Permintaan Bapak itu tidak mungkin bisa saya penuhi pak”
Customer: “Anda ini gimana sih? Sudah dikasih proyek tanpa tender kok tidak mau dipenuhi. Konsumen adalah raja, kalau anda tidak mau penuhi, saya akan beli di tempat lain. Masih banyak kok vendor lain”
Saya: “Ya, silahkan beli di tempat lain pak..”
Pembicaraan sampai di situ saja. Mentang-mentang konsumen adalah raja, enak aja main minta diskon 45%. Itu baru diskon. Belum lagi akan disuruh tandatangan kwitansi 100%. Pantas saja anggaran dua tahun lalu masih utuh. Mana ada supplier mau supply jika persyaratannya seperti itu. Konsumen jadi raja, pedagang masuk penjara.
Konsumen adalah mitra.
Konsumen dan Supplier adalah mitra. Keduanya memiliki kebutuhan yang sama. Yang satu butuh barangnya dibeli. Yang satu butuh barang dagangan yang dijual pedagang. Oleh karenanya, hubungan konsumen dan pedagang adalah kemitraan.
Hubungan pembeli dan pedagang yang bermitra akan memberikan hasil yang memuaskan. Katakanlah, anda berada dalam dunia IT, dimana perusahaan anda membangun system komputerisasi, maka hubungan kemitraan sangat diperlukan. Membangun infrastruktur IT bersama-sama.
Dalam skala ekonomi bawah, membeli sepincuk pecel juga memerlukan kemitraan. Coba saja anda lagaknya semena-mena kayak raja diraja sama mbok-mbok pecel. Saat anda tidak lihat, bumbu pecel anda bisa-bisa dicampur ludah kunyahan sirihnya simbok.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar