Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan Pengalaman Saya Bergabung Dalam Sekte. Di sini akan saya sharing-kan, bagaimana caranya saya keluar dari sekte tersebut.
Mengambil keputusan untuk keluar dari sekte bukanlah hal yang mudah. Sekali anda masuk dan doktrin sekte sudah merasuki, biasanya akan sulit sekali keluar dari sekte. Faktor penyulit utama adalah pikiran sendiri.
Saat di dalam lingkungan sekte, keluarga kita adalah anggota sekte. Kita sudah terprogram untuk tunduk pada guru. Karena guru adalah wakil Tuhan untuk mengajari dan membimbing kita. Sehingga, keluar dari sekte berakibat akan dikucilkan. Tidak punya siapa-siapa. Tidak ada saudara. Karena saudara biologis bukan lagi saudara, tapi saudara se-sekte sudah jadi saudara yang sesungguhnya. Sendirian. Memulai segala sesuatu dari nol. Belum lagi, jika sekte ini adalah sekte keagamaan. Keluar sekte bisa diintimidasi atas nama Tuhan. Menggunakan ayat-ayat untuk mengintimidasi. Dianggap sesat. Dibuat jadi merasa tertuduh, dianggap calon penghuni neraka. Dipandang lebih hina dari binatang.
Dalam kasus saya, saya dituduh Antikris, 666, dikutuki 1000 orang setiap minggu selama satu tahun, diserahkan kepada iblis. Kebetulan sepupu-sepupu dan seorang adik saya bergabung dalam sekte tersebut. Mereka tidak ikut keluar bersama saya. Pendeta memerintahkan keluarga saya yang berada dalam sekte itu untuk memilih, memutuskan hubungan keluarga dengan saya, atau dikeluarkan dari sekte yang notabene dianggap memutuskan hubungan dengan Tuhan. Tentu saja memilih memutuskan hubungan keluarga daripada memutuskan hubungan dengan Tuhan.Untuk menguatkan rasa putus hubungan, keluarga saya yang masih berada dalam sekte lah yang ditugaskan bergantian memimpin doa kutuk untuk saya, menyerahkan saya ke iblis.
Pemutusan hubungan keluarga itu, termasuk dengan ibu saya, yang tidak ada hubungan apapun dengan hal ini. Jadi, adik saya yang masih berada dalam sekte memutuskan hubungan dengan ibu saya. Dimana istrinya menelepon ibu saya, mengatakan “Bu, saya harus memutuskan hubungan dengan ibu. Jika suami saya hendak mempertahankan hubungan dengan ibu, maka terpaksa saya harus menceraikannya. Mulai sekarang, ibu jangan telpon-telpon kami lagi”. Telepon ditutup tanpa memberi kesempatan ibu saya untuk menjawab. Sejak saat itu, saya tidak pernah berhubungan dengan adik saya dan sepupu-sepupu saya. Bahkan mereka melarang ibunya, yang notabene adalah kakak ibu saya, untuk berhubungan dengan ibu saya.
Tidak mudah bukan?
Bagaimana saya bisa mengambil keputusan keluar dari sekte?
Saya adalah orang yang menggunakan logika dalam menerima pengajaran. Sekalipun iman tidak ada hubungannya dengan logika, tapi logika adalah bagian dari kontrol terhadap ajaran tentang iman. Penggunaan logika, sedemikian rupa sehingga saya dapat memisahkan, mana yang harus menggunakan iman, mana yang harus menggunakan logika.
Contoh, dalam mendoakan orang sakit, saya menggunakan iman. Namun dalam mengkaji bahwa uang persembahan dipakai untuk membeli rumah mewah dan mobil mewah, saya menggunakan logika, sekalipun berkali-kali diinjeksikan bahwa pemimpin adalah wakil Tuhan bagi pertumbuhan iman saya.
Contoh, dalam saya mempercayai bahwa saya pasti masuk surga, saya menggunakan iman. Namun, dalam mengkaji, bahwa orang di luar kelompok adalah calon penghuni neraka, pengikut setan, sehingga dianggap memiliki derajat lebih rendah dari binatang, dilabeli ini dan itu, saya menggunakan logika. (Dalam kasus ekstrim, di luar kelompok boleh dibunuh).
Contoh, bahwa Allah adalah Bapa saya, pemilik bumi dan segala isinya, saya menggunakan iman. Namun, dalam mengkaji untuk mengambil keuntungan finansial dengan cara-cara manipulatif, menipu, korupsi, mark up, atas nama umat Allah boleh menjarah harta “orang dunia” yang notabene “pengikut iblis” adalah dibenarkan, saya menggunakan logika. “Pengikut iblis” dimaksud kan sesama manusia, warga bangsa Indonesia, pembayar pajak.
Penggunaan logika sendiri, menjadi diri sendiri, adalah hal yang membuat kita mampu melepaskan diri dari sekte berbahaya. Sehingga sekte berbahaya sering menekankan untuk tunduk pada ajaran, dilarang menggunakan logika.
Pintu masuk cengkeraman doktrin adalah saat kita dilarang-larang menggunakan logika. Apalagi larangan tersebut mencatut nama Tuhan. Tuhan yang melarang kita berlogika. Selesailah sudah. Mau tidak mau, anugerah Tuhan yang disebut logika ini anda buang ke got.
Jika anda diajak mempercayai ajaran Tuhan bagi manusia tapi tidak kompatibel dengan manusia, gunakan akal sehat anda. Masak Tuhan tidak mengerti arti kemanusiaan? Masak Tuhan tidak mengerti arti berkeadilan? Masak Tuhan tidak mengerti arti mengasihi orang berdosa? Masak Tuhan tidak mengerti arti tidak boleh korupsi, markup dan manipulasi?
Gunakan akal sehat anda. Jika kelompok anda memiliki agenda atau memiliki ajaran yang menjurus pada pelanggaran UU, tindakan kriminal, pelanggaran kehidupan orang lain, maka kelompok anda harus ditinggalkan.
Lakukanlah kegiatan lain di luar panduan kelompok. Nontonlah film bertema di luar ajaran anda. Dengarkan berbagai jenis musik, pelajari keindaham ragam budaya nusantara, bacalah buku-buku di luar buku yang diperintahkan untuk dibaca. Baca berita. Browsing internet. Jalinlah hubungan dengan teman-teman di luar kelompok. Dengarkan berbagai jenis musik. Masukkan sebanyak mungkin berbagai informasi di luar ajaran ke otak anda.
Milikilah keberanian untuk menjadi diri sendiri. Jadilah orang yang bebas menentukan apa yang baik bagi diri anda sendiri dan gunakan akal sehat anda.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar