Heran juga saya melihat antusiasme warga yang intens menyimak situasi politik Mesir. Menit demi menit, segala progres peristiwa ditayangkan. Muncul pendukung Ikhwanul Muslimin dan pendukung pemerintah Mesir di dunia maya. Seolah semua pihak menunggu apa yang akan terjadi dengan peta perpolitikan Mesir. Karena bisa berimbas pada langkah apa yang akan digunakan oleh sepupunya Ilhwanul Muslimin di sini, PKS, untuk persiapan pemilu tahun depan.
Tragedi kemanusiaan di Mesir, memang memprihatinkan. Masyarakat mendoakan korban tewas sampai bercucuran air mata. Padahal jumlah korban tewas kasus Mesir lebih sedikit dari pada jumlah korban tewas mudik lebaran 2013 selama 1 minggu. Untuk itu tidak ada yang prihatin, turun ke jalan, demo minta perbaikan infrastruktur transportasi, apalagi sampai bercucuran air mata.
Ikhwanul Muslimin tewas di seberang lautan tampak, saudara sebangsa tewas di pelupuk mata tidak tampak.
Baik Ikhwanul Muslimin, maupun PKS memiliki kemiripan: hendak mendirikan kekhilafahan di negaranya masing masing.
Baik Mesir maupun Indonesia, memiliki kemiripan: sama-sama memiliki sejarah budaya tua yang hebat dan membanggakan. Mesir punya Pyramid, Indonesia punya Borobudur. Mesir punya Cleopatra, Indonesia punya Ratu Shima. Tradisi Mesir punya mistik dan berbagai kekuatan magis. Tradisi Indonesia juga punya mistik dan berbagai kekuatan magis. Baik Ikhwanul Muslimin maupun PKS sering menuduh-nuduh sesat, bid’ah, syirik dan sebagainya kepada tradisi budaya asli bangsa masing-masing.
Bisakah perilaku IM maupun PKS diterima masyarakat tradisional bangsa, yang budayanya sudah demikian adanya bertahun-tahun, ujug-ujug dituding-tuding syirik, sesat, bidah dan sebagainya dengan nada permusuhan? biar saja orang mau sesat kek, bidah kek, syirik kek.. kok anda keberatan.
Islam sudah ada berabad abad ada di Indonesia. Menjadi Islam nusantara, yang rahmatan lil alamin bagi siapa saja. Sampai kemudian masuk kelompok muslim yang melakukan islamisasi masyarakat yang sudah islam. Bertendensi mengubah Pancasila, dan hendak mendirikan khilafah padahal ujung-ujungnya minta jabatan dan cari uang semata. Menggebuki kelompok syiah dan ahmadiyah yang selama ini baik-baik saja berdampingan dengan semua orang dan bagian dari masyarakat bangsa. Ujug-ujug kok ada masyarakat mengusir masyarakat lain dari rumahnya sendiri.
Tatanan berkehidupan bangsa Indonesia sudah baik. Bangsa ini tadinya dikenal sebagai bangsa yang ramah, sampai anda-anda ini datang pentung sana pentung sini yang dianggap berbeda akidah.
Bangsa Indonesia sudah punya Pancasila. Kita tidak butuh dasar negara baru. Kita tidak butuh khalifah baru. Karena beratus-ratus tahun, turun temurun, kita sudah punya khalifah kita sendiri yang jadi panutan orang banyak, dihormati dan dicintai masyarakat, namanya Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa. Khalifah mana yang bisa diterima bahkan dicintai masyarakat dari berbagai agama kalau bukan beliau ini?
Oleh karenanya, belajarlah dari kasus Mesir: you are not welcomed here.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar