Kalimat tersebut adalah reaksi terkejut kawan saya di Amsterdam saat membaca artikel saya mengenai Sisca Yofie. Memang begitulah negeri Kompeni, yang kata banyak orang Indonesia merupakan negara sekular, atheis, dan tidak bermoral. Namun faktanya, kalau ada kecelakaan, polisinya 3 mobil datang cepat. Plus paketnya: ambulans, paramedis, helikopter. Padahal orangnya tidak sampai patah tulang. Kalau sudah keluar rumah sakit masih disediakan psikolog untuk menangani trauma pasca kecelakaan.
Sisca Yofie, korban pembacokan pria tak dikenal, ditinggalkan di jalan selama 2 jam di jalanan. Tidak ditolong oleh masyarakat, sementara jarak ke RS terdekat hanya 2,3 km atau 15 menit dengan mobil, adalah situasi yang di luar akal sehat.
Ada yang keliru dengan pola pikir masyarakat kita.
Jangankan menolong sesama. Kita lebih memprioritaskan memberi jalan bagi ambulans berisi orang mati daripada ambulans berisi orang hidup. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang yang sudah mati, namun nyawa orang yang mati tidak dapat dikembalikan lagi. Sementara nyawa orang hidup memang seharusnyalah dipertahankan sebisa mungkin.
Tidak menghargai kehidupan sesama, rasanya sudah mengakar merasuk dalam jiwa bangsa. Masyarakat bisa seenaknya saja melemparkan limbah berisi kuman penyakit ke lingkungan sekitar dengan membuang sampah di sungai. Mau tetangga sakit atau mati gara-gara kondom bekas yang gue lemparin ke kali, emangnya gue pikirin. Itu hal-hal yang paling sederhana kita temui sehari-hari. Belum lagi memperjual belikan bahan makanan berbahaya bagi kesehatan yang bisa menimbulkan kematian. Toh orang lain yang mati, bukan keluarga sendiri.
Dalam hal yang lebih kompleks dilakukan oleh orang-orang berpendidikan, adalah mencuri anggaran kesehatan masyarakat, pembakaran dan penebangan hutan serta merusak ekosistim.
Kasus Sisca Yofie merupakan puncak gunung es dari kegilaan barbarianisme pola pikir masyarakat yang mementingkan diri sendiri secara akut. Jarak 15 menit ke Rumah Sakit dari lokasi korban pun tak sudi ditempuh. Padahal area Bandung dan Jawa Barat, tidak bisa kita ragukan kalau soal ibadah. Cuma Partai Agama yang menang di sini.
Tapi, pola pikir memang sudah terbalik balik. Mending melihat orang mati di jalan ketimbang menolongnya.
Mengubah mindset masyarakat kita yang model barbar seperti ini memerlukan waktu setidaknya satu generasi.
Menurut anda, darimana kita harus mulai?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar