Kamis, 26 Februari 2015

World Statesman Award SBY Ternyata Didasari Kisah Penyaliban Yesus

Massa turun ke jalan. Potensi kerusuhan terjadi di Yerusalem. Yesus ditangkap, dibawa kepada Imam Besar Kayafas. Imam besar menyatakan Yesus bersalah. Lalu Yesus digelandang ke hadapan Mahkamah Agama Sanhedrin. Mahkamah Agama menyatakan Yesus bersalah. Yesus dituduh melakukan penistaan agama karena menyatakan dirinya Juru Selamat, Anak Allah, dan menyebarkan ajaran sesat.

Lalu Yesus dibawa ke hadapan gubernur Roma yang memerintah saat itu, Pontius Pilatus. Yesus dituduh melakukan pelanggaran politik, karena mengaku Raja Yahudi. Namun Pontius Pilatus tidak menemukan kesalahan Yesus. Pilatus mengirimkan Yesus pada raja Herodes yang memerintah daerah Galilea. Herodes juga tidak mendapati kesalahan Yesus dan mengirimkan kembali pada Pilatus.

Saat itu adalah Paskah. Menjadi kebiasaan bagi pemerintah untuk membebaskan satu orang tahanan di hari Paskah. Pontius Pilatus membawa seorang pembunuh bernama Yesus Barnabas ke hadapan massa dan menyuruh memilih, siapa yang dibebaskan. Yesus Barnabas, atau Yesus yang disebut Kristus. Imam-imam Besar marah, meminta agar Yesus disalibkan. Kali ini Pontius Pilatus mengambil air, mencuci tangannya di hadapan massa yang marah dan mengatakan bahwa dia tidak bertanggung jawab atas kematian Yesus.

Maka Yesus disalib. Pontius Pilatus menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib, INRI (Iesus Nazarenus, Rex Ludaeorum) yang artinya ”Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi”. Imam-imam meminta Pilatus untuk mengubahnya menjadi “Aku adalah Raja orang Yahudi”. Namun Pilatus menolaknya.

1369633407982595562
Gambar: katolisitas.org

Pontius Pilatus menganugerahi Yesus gelar Raja Orang Yahudi, dan gelar ini tidak ditolak oleh imam-imam yang memaksa agar Yesus disalib. Apakah ini berarti imam-imam Yahudi mengakui bahwa Yesus adalah Raja orang Yahudi? Tidak. Namun imam-imam ini tetap menyetujui pemberian gelar tersebut sebagai sebuah paradox.
Imam-imam Yahudi saat ini disebut Rabbi.

13696333511644271316Gambar: ACF website

Hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertolak ke Amerika untuk menerima penghargaan World Statesman Award, Appeal of Conscience Award dari Appeal Of Conscience Foundation (ACF). Award ini tidak bisa dikatakan sebagai award untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun sebuah penghargaan kepada bangsa Indonesia. Karena Presiden Republik Indonesia dalam hal ini bertindak mewakili Bangsa Indonesia.

Dari nama awardnya, Appeal of Conscience Award, jelas bahwa ini adalah sebuah penghargaan kepada bangsa yang mengedepankan hati nurani. Dan Appeal Of Conscience Foundation, memiliki motto institusi: A crime committed in the name of religion is the greatest crime against religion. Translasi: Kejahatan yang dilakukan atas nama agama adalah kejahatan terbesar terhadap agama.

Dengan demikian, Appeal of Conscience Award adalah sebuah penghargaan kepada bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang mengedepankan hati nurani terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama agama.

Apa dasar Appeal of Conscience Foundation menggelari Presiden Republik Indonesia dan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mengedepankan nurani terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama agama?

Dari website resmi ACF dikatakan, ACF delegation hosted an Indonesia delegation.Rabbi Scheier was joined by David Scheider, Andrew Scharf, John Ellis, Antonio Garcia, Rabbi Benjamin Goldschmidt and Amy Roses. The visitors were invited to the United States under the auspices of the Department of State’s International Visitor Leadership Program. Dalam hal ini, Department of State’s International Visitor Leadership Program adalah lembaga yang memfasilitasi pertemuan delegasi Indonesia dengan pemimpin-pemimpin ACF.

Beberapa waktu sebelumnya, Department of State mengeluarkan Religious Freedom Report for 2012 untuk situasi kebebasan beragama di Indonesia. Dalam laporannya dengan sub judul: Government Inaction. The government failed to take sufficient action with regard to continued discrimination, restrictions, and occasional attacks toward religious minorities.

Translasi: Pemerintah tidak bertindak. Pemerintah telah gagal untuk mengambil 
tindakan yang memadai sehingga diskriminasi, pembatasan-pembatasan dan serangan-serangan terhadap minoritas tetap berlanjut.

Mengapa di satu sisi US Department of State mengeluarkan laporan tersebut, namun juga memfasilitasi pertemuan delegasi Indonesia dengan ACF sehingga muncul penghargaan sebagai bangsa yang mengedepankan nurani terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama agama dari Appeal of Conscience Foundation?

Ternyata ini Rabbi-Rabbi Yahudi punya gaya…

Situasi kerusuhan saat penyaliban Yesus dengan tuduhan penistaan agama kurang lebih mirip dengan situasi di Indonesia. Pendapat pemuka-pemuka agama seringkali menjadi pemicu amuk massa. Massa memilih membebaskan pembunuh jemaah Ahmadiyah ketimbang membela jemaah Ahmadiyah. Segala sesuatu yang dituduhkan penistaan agama dan menyebarkan ajaran sesat, bisa jadi amuk massa atas nama agama.

Menggelari bangsa Indonesia, cq Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin yang mengedepankan nurani terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama agama ibaratkan menggelari Yesus sebagai Raja Orang Yahudi (INRI).

Sebuah Paradox.

Tidak berhenti di sini.

Appeal of Conscience Award adalah sebuah Pengharapan dari ACF dan US Department of State kepada bangsa Indonesia. Iman adalah dasar dari apa yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Jika ingin punya anak baik, berilah nama yang baik kepada anak, padahal kebaikan anak itu belum kelihatan. Demikianlah analoginya.

Mengacu pada implikasi pemberian gelar INRI pada Yesus, yang berakibat pada diposisikannya Yesus sebagai Raja segala Raja bagi umat Kristen, maka pemberian gelar kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Bangsa Indonesia, diharapkan berimplikasi serupa. Mengubah mindset masyarakat menjadi masyarakat yang sesuai dengan gelar yang disandangnya: sebagai bangsa yang mengedepankan hati nurani terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama agama.

Congratulation, Mr. President.


- Esther Wijayanti –

Tidak ada komentar:

Posting Komentar