Jumat, 27 Februari 2015

Bahasan Fatin Memuakkan

Akhirnya saya urun suara juga tentang Fatin.

Menurut saya, Fatin tidak jelek. Tapi tidak bagus-bagus amat. Kasus dia nggak hafal syair di panggung itu fatal banget. Harusnya dieliminasi saja. Tapi namanya juga Fatinistic. Yang dipilih bukan suaranya. Tapi Fatin nya. Jadi ya didukung saja.

Komen pertama saya tentang Fatin dahulu adalah mengenai suaranya yang cenderung fals itu. Jadi Fatin masih perlu banyak latihan. Itu dulu, saat saya belum tahu kalau di dunia maya ada perang barathayuda antara Fatinistic dan non Fatinistic.

Apa saya sok tau menilai suara Fatin? Tidak. Gini-gini, ibu saya dulunya pernah juara nyanyi tingkat nasional. Hanya saja yang menilai juri yang kompeten, dan kemenangan ditentukan oleh juri, bukan masyarakat. Namanya juga jaman dulu. Jadi, kami memang dididik untuk tahu nada dan tahu fals atau tidak. Do = C atau Do = D hafal luar kepala bunyinya seperti apa. Jadi, kalau Fatin pakai nada Do = C mengsle, ya memang fals namanya. Itu di awal lagu-lagu dia. Lalu saya nggak ngikuti, sampai kemudian saya klik link Fatin tidak hafal syair. Parah sekali.

Mengapa kemudian saya menjadi muak tentang bahasan mengenai Fatin?
Karena setiap kali membuka Kompasiana, sampai saat ini pasti ada tulisan tentang Fatin. Nggak bosan-bosannya orang menulis tentang Fatin. Yang mengherankan bagi saya, sampai ada pro dan kontra, bertengkar hebat di komen-komennya, plus istilah Hater. Saya rasa ini berlebihan. Bahkan memuakkan. Urusan Fatin kan cuma ajang lomba nyanyi biasa. 

Kok sampai bertengkar begitu.

Mari saya bandingkan dengan Indonesian Idol. Joy Tobing vs Delon. Mike Mohede vs Judika Sihotang. Ihsan Tarore vs Dirly Sompie. Sebuah kompetisi biasa. Masing-masing punya fans. Tapi tidak sampai bertengkar hebat seperti yang terjadi pada penggemar Fatin ini.

Fans Fatin, yang menyebut dirinya Fatinistic, menurut saya sudah masuk kategori berlebihan. Jika tidak ingin saya sebut norak. Yang karena berlebihan, ya dinakali sekalian sama yang nggak fans sama Fatin. Padahal yang nggak fans Fatin sebetulnya juga tidak benci Fatin. Cuma jail aja sama fans Fatin. Maka makin menjadi deh noraknya, sampai ada istilah hater segala. Belakangan malah ada istilah neraka jahanam bagi non Fatinistic.

Biarlah Fatin melaju dalam karirnya. Kalau dia kemudian sukses, kita semua turut senang. Kalau kemudian dia tidak sukses, ya memang jalannya demikian. Bagi Fatinistic, dukunglah Fatin. Tapi mbok ya nggak usah norak begitu. Tidak mendukung Fatin kan bukan berarti pembenci Fatin, atau berakibat masuk neraka jahanam.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar