Ini adalah tulisan tanggapan atas artikel saudara Elde, Indahnya Hidup di Negara Sekuler dimana disebutkan bahwa negara membebaskan masyarakat untuk menjalankan agama maupun tidak menjalankan agama. Negara membebaskan masyarakatnya hidup bersama, menikah maupun tidak menikah.
Tulisan tersebut mengesankan, seolah-olah Indonesia bukan negara sekuler.
Anda keliru besar. Indonesia adalah negara paling liberal sekuler dibandingkan Jerman. Bahkan, Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang menunjukkan liberalisme dan sekularisme yang sesungguhnya.
Inilah negara yang masyarakatnya bebas membuang sampah di sungai seenak udelnya.
Inilah negara yang masyarakatnya bebas membangun rumah di lahan bukan miliknya, di bantaran sungai, di waduk, di tanah milik orang lain.
Anda pernah ke Bogor? Di sana lebih liberal lagi. Jumlah angkot seolah tidak terkendali, dan boleh berhenti dimana sana. Kalau anda lihat dari tempat yang sedikit lebih tinggi, maka angkot posisinya mengsla mengsle, tidak berbaris di jalurnya.
Pria bebas punya istri berapa saja, tanpa mendaftarkan pernikahannya kepada pemerintah.
Dalam pernikahan, yang penting kata SAH dari sejumlah orang, bukan legalitas negara. Zina juga sama-sama tidak ada legalitas dari negara.
Perbedaan antara zina dan nikah hanya pada ritual. Kalau ritual dijalankan, maka sebuah perzinahan bisa langsung disebut pernikahan.
Cerai bisa via SMS, BBM, Wechat, Whatsapp, Kakaotalk, Skype, Yahoo Messenger. Kalau cerai bisa via text message, tentu nikah juga bisa via text message. Yang menikahkan dan saksi-saksi bisa tinggal kirim sms: SAAAHHHH… !!!
Tetangga bisa seenaknya mengawinkan pasangan yang berdua-duaan. Perkara ternyata itu pasangan sejenis, itu urusan belakangan. Kayak kasus di Bekasi itu.
Kelompok masyarakat bebas menghancurkan properti milik orang lain, yang jalan menuju surganya berbeda dengan kelompok masyarakat tersebut.
Kelompok masyarakat bebas menghancurkan rumah makan orang lain dengan alasan harus menghormati mereka.
Bebas punya anak sebanyak-banyaknya. Soal kebutuhan penambahan infrastruktur karena ledakan penduduk, biar saja. Nanti juga dibantu Amerika lagi.
Pria bisa seenak udelnya mengencingi batang pohon, pot taman kota atau di roda bis. Kalau kebetulan ada wanita berjalan mendekat, tinggal membelokan badan 90 derajat. Spotting area kencing jadi lebih luas.
Mungkin masih banyak berbagai kebebasan yang bisa dilakukan di Indonesia yang luput dari tulisan saya. Ada yang mau menambahkan?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar