Kasus Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine yang ditolak warga karena beragama Kristen mengingatkan saya pada kejadian serupa yang dialami ibu saya di awal tahun 80 an. Saat itu ibu naik pangkat dari Guru Sekolah Negeri jadi Kepala Sekolah dan ditempatkan di pinggiran kota di Jakarta. Nama sekolahnya masih pakai istilah Kelas Jauh.
Warga menolak, karena alasan agama. Memang tidak sampai demo. Namun aspirasi tersebut disampaikan. Segala kasak kusuk merebak di kalangan warga, mereka menghimbau agar anak-anak tidak disekolahkan di sekolah tersebut. Alhasil, tahun pertama sekolah buka, masih sangat minim siswa.
Tapi bukan ibu saya kalau tidak punya banyak akal. Di halaman sekolah yang masih ada space, di tengah-tengah antara blok kiri dan blok kanan sekolah, ibu mendirikan sebuah mushola. Bentuknya seperti mesjid biasa. Sebesar ruang kelas. Agak besar untuk ukuran sebuah mushola, tapi kecil untuk disebut mesjid. Dinamai Darussalam. Karena waktunya cukup mepet menuju penerimaan murid baru, maka biaya pembangunan mushala itu tidak bisa minta ke Diknas, jadi dibiayai sendiri. Dibantu beberapa teman.
Rupanya langkah tersebut seketika mengubah pola pikir warga. Ibu dipanggil bu Haji oleh warga. Semua senang. Setelah mushala dibangun, warga menyekolahkan anak anaknya di situ. Sekolah penuh. Proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
Itu awal tahun 80an. Saat masyarakat masih belum melek informasi seperti sekarang. Tapi faktanya, saat ini masih sama saja. Banyak warga menolak pemimpin non muslim, dengan berbagai alasan. Terakhir saya mengunjungi mushola tersebut, sudah ditempeli marmer, bertuliskan: Mushala ini dibuat oleh bapak Anu. Nama Kepala sekolah berikutnya. Wah..
Jika saya ambil kesimpulan, akar permasalahannya adalah curiga bahwa pemimpin non muslim akan tidak toleran terhadap muslim. Ini merupakan cerminan pemikiran diri sendiri. Life is just like a mirror. Karena diri sendiri tidak toleran, maka orang lain dianggap tidak toleran juga. Padahal toleran maupun tidak, tidak perlu diungkapkan dengan materi. Nanti dikasih materi malah dituduh Kristenisasi.
Namanya juga minoritas. Mau memberi salah, tidak memberi lebih salah.
Susan Jasmine ditolak warga jadi lurah karena Kristen. Di sini saya menduga ada dua kelompok. Yang mengajak menolak dan yang diajak menolak. Untuk pihak pertama, belum tentu antipati terhadap pemimpin non muslim. Bisa jadi antipati karena jabatan yang seharusnya dia tempati malah ditempati oleh Susan Jasmine. Jadinya mengajak-ajak warga untuk menolak, lalu agama digadang-gadang dijadikan alasan menolak warga. Situasi seperti ini pernah saya alami di lingkungan kerja.
Itu hanya dugaan semata. Sekalipun ada unsur rebutan jabatan di balik penolakan Susan Jasmine, sebaiknya masyarakat tidak mudah dihasut-hasut. Mbok ya pinter sedikit.
Pemimpin non muslim tentu dilarang jika memimpin peribadatan muslim. Namun untuk kemasyarakatan, apapun agamanya, yang kita perlukan adalah kinerja dan kejujurannya.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar