Jumat, 27 Februari 2015

Warga Rebutan Beli Telur Pecah

13736415291644942193
Sumber: petamasadepanku.net

Harga pangan seolah tidak terkendali. Kenaikan berkisar dari 50%-100%. Daging sapi tidak terbeli, daging ayam tidak terbeli, bahkan telur pecah diburu. Itu belum termasuk harga sayur mayur yang naiknya bisa 100%. Padahal negara sedang aman-aman saja, tidak dalam keadaan perang.

Telur pecah. Jelas tidak higienis. Karena pada kulit telur menempel tinja ayam. Telur campur kuman tinja ayam ini jadi makanan warga.

Jelas ini adalah kejahatan negara terhadap masyarakatnya.

Saya seolah kehabisan kata-kata jika membicarakan Kementrian Pertanian. Apakah njegogrog saja di kantor makan gaji buta, atau tidak kompeten, atau sengaja menzolimi masyarakat demi memperkaya diri dan partai.

Menzolimi warga ini, terlebih warga muslim. Karena menjelang lebaran harga pangan naik. Padahal lebaran bukanlah situasi force majour. Lebaran tiap tahun selalu datang. Namun kenaikan harga selalu terjadi. Artinya, memang sengaja tidak ada tindakan antisipasi sama sekali terhadap kenaikan harga yang sebetulnya bisa diprediksi setiap tahunnya. Belum lagi kenaikan harga daging ayam dan daging sapi yang sebetulnya bisa dibuat tidak naik. 

Karena selama 10 tahun terakhir harga daging babi tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Padahal peternakan babi banyak ditutup karena babi haram. Kok harga daging babi bisa tidak naik tapi harga daging sapi dan ayam meroket? Artinya, dalam hal ini warga muslim lebih dijadikan bulan-bulanan eksploitasi ekonomi oleh pemerintah, cq Kementan.

Lalu, mendadak Indonesia mendapat penghargaan Ketahanan Pangan dari FAO. Kementan bangga. “Padahal targetnya pada 2016. Alhamdulillah, tiga tahun lebih cepat,” katanya.

Ironis sekali.

.

13736413251982601002Sumber: USAID
.

Program Ketahanan Pangan dapat dana dari USAID, sementara yang mengerjakan berbagai program untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah USAID dan FAO sendiri. Sukses, tiga tahun lebih cepat dari target. Jadi, dalam hal ini FAO memberi penghargaan kepada Indonesia karena telah mengijinkan FAO mengurusi Indonesia.

Apa prestasi Kementan 10 tahun terakhir? Entahlah. Satu-satunya yang terlihat adalah mengijinkan Amerika mengurusi pangan Indonesia dengan budget APBN Amerika yang disetujui oleh Kongres Amerika. Namun, namanya juga negara lain, bagaimanapun juga tidak bisa maksimal mengurusi swasembada pangan Indonesia.

Kembali ke soal telur pecah tadi, saya hanya bisa bilang pada pemerintah cq Kementan: anda keterlaluan.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar