Jumat, 27 Februari 2015

Begini Rasanya Berdesakan Antri Sembako Gratis

Belanja sayur, stock bumbu dapur, bawang, cabai dan telur di supermarket untuk keluarga, membuat terheran-heran dengan angka di kasir bernilai ratusan ribu rupiah. Yang benar saja jualan, padahal ini nggak pakai beli beras, ayam, ikan, apalagi daging. Gemblung tenan penyelenggara pangan Indonesia ini.

Membuat pikiran saya kembali pada masa sekitar 5 tahun lalu..

Sabtu kala itu, kira-kira jam 6 pagi, saya membuka pintu rumah. Terkejut melihat beberapa orang berdiri berdiri di depan rumah. Dari penampilannya, mereka berasal dari ekonomi bawah. Penasaran, saya bertanya pada mereka. Ada apa ramai-ramai berdiri disini. Mereka menjawab, ada pembagian sembako hari ini di rumah yang berseberangan dengan rumah saya, katanya sambil menunjuk rumah yang dimaksud. Saya tercengang. Rumah mertua saya. Jam berapa pembagian sembakonya? tanya saya. Jam 2 siang. Kata mereka. Alamak… jam 2 siang, kenapa jam 6 pagi sudah disini?

Jam 8 pagi, orang sudah lebih banyak. Saya bergegas ke rumah mertua, menanyakan ada acara apa ini. Ternyata, kakak ipar punya kegiatan. Halaman rumah dipinjamkan kepada salah satu partai untuk membagikan sembako. Biasa lah, kalau menjelang pemilu partai-partai membagikan sembako. Masyarakat diberikan kupon, jadi tinggal datang untuk mengambil sembako. Jumlah kupon yang dibagikan ada 1000. Begitu katanya.

Astaga.. Berarti 1000 orang akan berada di depan rumah saya.

Hari semakin siang. Orang semakin banyak. Saya mengobrol dengan mereka. Ternyata tidak semua memiliki kupon. Banyak diantaranya yang datang begitu saja berharap dapat sembako. Saya mulai was-was. Jika begini situasinya, bagaimana dengan orang yang tidak kebagian sembako?

Jam 12 siang, orang makin banyak duduk-duduk di depan rumah. Kebanyakan ibu-ibu, diantaranya membawa anak. Lansia juga banyak. Sementara yang pria berdiri di depan rumah mertua. Beberapa orang dari partai menggunakan pengeras suara meminta massa untuk tidak bersandar pada pagar. Jumlah mereka benar-benar banyak. Terlihat sudah tak sabar menunggu sembako datang. Padahal, memang belum waktunya datang.

Jam 1 siang, pagar tembok depan rumah terlihat miring. Saya mulai kuatir. Bagaimana kalau sembako terlambat datang? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak kebagian kupon? Mereka sudah datang dari pagi. Lansia terlihat kelelahan, duduk-duduk di pinggir jalan.

Tak lama kemudian seseorang datang membagi-bagikan kupon kepada masyarakat yang belum kebagian kupon. Saya sedikit lega. Untunglah mereka punya kupon tambahan.

Jam 1.45 massa diminta memberi jalan bagi truk agar dapat lewat. Dua buah truk berposter partai datang, masuk ke halaman rumah. Massa tidak sabaran berdesak-desakan, dorong mendorong. Situasi mengerikan sekali. Petugas dengan pengeras suara berteriak teriak menjamin semua kebagian dan meminta agar massa tertib. Akhirnya mereka mau berbaris. Satu demi satu diijinkan masuk untuk menerima sembako, lalu keluar dari pintu samping.

Namun, para lansia ini sudah benar-benar kelelahan dan belum makan. Jadi, beberapa orang muda termasuk saya menggantikan mereka mengantri sembako. Jadilah saya turut berbaris di tengah terik matahari jam 3 siang. Namun, itu bukan mengantri namanya, karena semua saling dorong. Gencet-gencetan. Kaki terinjak-injak. Bau keringat orang banyak tak terkatakan. Karena saya masih kerabat, saya dapat keistimewaan menukarkan dua kupon. Itupun sambil dipertanyakan dengan nada marah, mengapa saya punya 2 kupon. Per kantongnya dapat 5 liter beras.

Beginilah rasanya perjuangan rakyat miskin untuk dapat 5 liter beras gratis kualitas biasa.
Itu 5 tahun lalu. Bagaimana nasib mereka sekarang? Gara-gara penyelenggara pangan negara yang tidak kompeten dan korup, bisa-bisa mereka mengalami bulan puasa sepanjang tahun.

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar