Belanja sayur, kalau sibuk tidak ke pasar besar. Cukup ke pasar kecil dekat rumah, dimana beberapa tukang sayur mangkal kalau pagi. Beli daun bawang adanya juga kualitas rendah. Kecil dan kucel, mana tanahnya masih menempel pula. Bukan daun bawang yang montok-montok bening-bening seperti di supermarket itu. Di pasar, beli daun bawang Rp.1000 dapat 1 batang ukuran kecil. Alamak..
Persoalan emak-emak dapur seperti saya ini, bukan harga BBM. Tapi harga beras, terigu, garam, bawang, daging, telur, susu. Hingga saat ini saya tidak bisa memahami, mengapa masyarakat sedemikian marahnya dengan kenaikan harga BBM. Bagaimanapun, suatu saat kita akan tiba pada suatu masa, dimana sebanyak-banyaknya uang anda, anda tidak akan bisa membeli BBM lagi karena sudah punah. Ketersediaan BBM tidak di bawah kontrol manusia sepenuhnya. Alam menyediakan BBM yang jumlahnya fixed. Tidak bertambah. Sementara manusia bertambah. Harga BBM memang harusnya naik, karena makin lama makin langka.
BBM di Indonesia sudah sangat murah. Tidak seperti di Eropa sana, harga bensin sekitar 2 euro. Sekitar Rp.26.000 per liter. Dimana harga pangan kurang lebih sama bahkan beberapa bahan pangan lebih murah dari di Indonesia.
Padahal, GDP di Eropa kurang lebih 8 kali lipat dibanding GDP Indonesia. Artinya, jika kita hendak menyamakan situasi, maka harga pangan di Indonesia seharusnya seperdelapan lebih murah dari harga saat ini. Atau, GDP kita dinaikkan 8 X lipat tanpa menaikkan harga pangan.
Saya coba permudah: dengan GDP Indonesia seperti saat, harga bahan pangan ideal adalah: beras Rp.1500/kg, minyak goreng Rp. 1200/lt, daging Rp.10.000/kg, telur Rp.1500/kg dan seterusnya. Dengan demikian, kenaikan harga BBM bukan persoalan yang krusial bagi masyarakat jika harga pangan serendah itu.
Lalu, mengapa mengamuk karena harga BBM naik, tapi tidak mengamuk karena harga pangan sedemikian tinggi? Kita bias fokus. Belum lagi dipanas-panasi oleh partai politik.
Penyebab inflasi sepuluh tahun terakhir ini didominasi oleh kenaikan harga agrikultur. Sementara, agrikultur bisa diproduksi. Sedemikian rupa sehingga seharusnya tidak perlu impor. Siapa dulu itu yang suka bilang, tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Swasembada pangan sepertinya sudah punah. Sebuah kalimat yang dimusiumkan. Israel saja bisa jadi exportir agrikultur, padahal tanahnya tanah gurun. Kita jadi importir agrikultur, padahal tanahnya tanah surga.
Baik Kementrian Pertanian maupun IPB, tidak ada gaungnya 10 tahun terakhir ini. Jika saya pertajam: sejak PKS memegang agrikultur Indonesia, swasembada pangan masuk musium. Harga pangan sedemikian tinggi. PKS dan Kementan terbukti tidak kompeten mengurusi pangan 250 juta orang. Mengakibatkan inflasi seperti yang kita rasakan saat ini. Sementara kadernya sibuk membela: negara kan tidak dirugikan. Apanya yang tidak dirugikan jika agrikultur menjadi penyebab inflasi begini? Sebentar lagi bunga bank naik. Pelaku usaha mikro tidak bisa kredit karena bunga tinggi. Akibatnya, tidak bisa mengembangkan usaha. Ekonomi mandeg. Akhirnya rakyat difasilitasi negara untuk jual diri ke Arab.
Mari kita lihat gambar berikut:
Sumber: USAID
.
Coba anda baca tulisan di tengah itu. USAID program FOCUS on accelerating economic growth in agriculture dan seterusnya. Kuncinya ada pada fokus bekerja. USAID fokus pada percepatan pertumbuhan ekonomi di sektor agrikulturdan memperbaiki produksi dan nilai jual produk agrikultur. Angka bantuannya juga tidak main-main. Sekitar Rp.682.000.000.000. Angka tersebut adalah untuk:
Training agrikultur dan ketahanan pangan 14.591 orang selama satu tahun, memperbaiki 5,385 hektar sawah menuju teknologi irigasi yang lebih baik, pendampingan 326 organisasi untuk menaikkan taraf ketahanan pangan, menaikkan kualitas agrikultur agar memenuhi standar ekspor.
Itu baru tahun 2011. Belum tahun-tahun yang lainnya. Jika USAID sedemikian rupa mengupayakan percepatan pertumbuhan ekonomi di sektor agrikultur nasional, lalu Kementrian Pertanian ngapain aja?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar