Kamis, 26 Februari 2015

Kalo Celana Icut Dibakar, Icut Pake Apa Bang?

Icut kembang desa. Remaja beranjak dewasa, putih kinyis kinyis. Rumahnya di ujung aspal. Parasnya cantik bagai bidadari. Pustun Irak maupun bule Uzbekistan kalah jauh dibanding Icut. Tubuhnya harum seharum rempah. Entah kenapa, Icut seolah punya magnet. Setiap dia keluar rumah, semua orang mencuri pandang. Nggak yang tua nggak yang muda. Nggak yang duda nggak yang beristri. Nggak yang perjaka nggak yang bangkotan. Membuat hati dan pendulum setiap pria deg-degan.

Tidak sedikit yang datang pada Haji Nasir, ayah si Icut untuk melamar. Tapi Haji Nasir menolak. Icut belom boleh dikawinin sebelum delapan belas tahun, katanya. Masih anak-anak, belum boleh kawin.

Suatu sore di akhir pekan yang indah. Haji Nasir sedang duduk berdua dengan mamak si Icut. Menikmati kopi dan kue kampung dibungkus pisang. Sambil memandangi ayam-ayam di kebun. Mobil mentereng berhenti di rumah Haji Nasir. Pria bersafari hitam berkacamata hitam turun. Mamak Icut mencolek-colek, “siapa tuh Yah?” katanya. Nggak taunya pria bersafari hitam membuka pintu belakang mobil. Rupanya ajudan. Turunlah pria bersafari coklat. Haji Nasir menyikut istrinya,“Wah, itu pak Bupati, mau ngapain pak Bupati kemari?”

Haji Nasir dan istrinya tergopoh gopoh menyambut pak Bupati. “Assalamualaikum..”kata pak Bupati. “Waalaikumsalaaamm.. Bapaakk…” jawab Haji Nasir, “Ada angin apakah Bapak bertandang ke rumah kami di kampung ini?”. Pak Bupati menyalami Haji Nasir. Mereka duduk di beranda. “Begini pak Haji,” pak Bupati menarik nafas,“Kita langsung saja ya pak Haji, saya kemari bermaksud melamar Icut, anak Bapak”kata pak Bupati.

“Haaa..??? melamar anak saya..??” Haji Nasir tercengang. Bu haji nggak kalah mlompongnya.

“Wah, pak Bupati, bukannya saya nggak mau, tapi si Icut belum delapan belas tahun, setahun lagi.

Bagaimana kalau tunangan saja dulu?” kata haji Nasir. Setelah mengobrol sana sini, akhirnya disepakati, kalau pak Bupati tunangan dulu sama si Icut. Daripada si Icut dirubung laler desa, pikir haji Nasir, mending dikawinin sama Bupati aja.

Akhirnya si Icut tunangan sama pak Bupati. Sekalipun usia terpaut jauh, Icut memanggilnya Abang. Kan calon suami..

Tapi, ternyata bang Bupati ini orangnya cemburuan, ada aja yang dia komplen. Si Icut nggak boleh naik ojek, takut dibawa lari tukang ojek. Akhirnya si Icut belajar naik motor. Tapi bang Bupati komplen lagi, “nggak boleh gitu kalau duduk, Dek.. jangan ngangkang, nanti pendulum orang pada deg degan, duduknya nyamping aja” kata bang Bupati.

“Ah, Abang.. gimana caranya nyetir motor sambil duduk nyamping?”

Bang Bupati mikir. Bener juga dek Icut ini, nyetir motor kan nggak bisa nyamping.“Ya udah, dek Icut boleh naik motor, tapi dibonceng ayah, selainnya itu nggak boleh, bukan muhrimnya.” Icut nurut aja. Berangkat pulang sekolah dijemput ayah. Pergi ke tempat bimbel sama pergi ke sanggar tari juga diantar ayah.

Tapi bang Bupati komplen lagi, “Dek Icut nggak boleh nari depan orang yah.. nanti pendulum yang nonton pada deg-degan. Kita kan baru tunangan, sepanjang belom nikah, dek Icut bisa aja dilamar orang. Pokoknya nggak boleh nari di depan orang”. Icut diam saja. Sedikit manyun sih. Bang Bupati ini cemburuan apa nggak percaya diri sih.. masak nari aja nggak boleh.. Dasar si Icut anaknya penurut, dia ikut aja kata bang Bupati.

Tapi namanya juga remaja. Icut senang dengar lagu-lagu yang lagi ngetop. Ada Raisa, ada Cherrybelle. Tapi, berhubung ayah Icut haji yang terkenal, Icut nggak bisa lah, pake rok mini kayak Cherrybelle. Jadi Icut pake baju kayak Raisa. Celana panjang sama kaos kasual. Icut senang sekali pakai baju yang lagi trend. Icut makin kinclong aja. Nggak perjaka desa, nggak suami orang, bawaannya ngeces kalau lihat Icut.

Bang Bupati berang. Tergopoh-gopoh mendatangi haji Nasir. “Bapaaakkk…!!!”teriaknya di depan pintu. “Si Icut tunangan saya, dilirik laki-laki satu kabupaten gara-gara makin cantik aja. Mana, saya mau lihat lemari pakaiannya.” Haji Nasir dan istrinya mengalah saja. Bang Bupati ngacak-ngacak isi lemari. Celana panjang Icut diambil semua. Dibawa ke halaman rumah. Dibakar semua.

Icut memelas-melas. “Aduh Baanggg…. kenapa celana Icut dibakar semua??”

“Abang nggak suka kalo Adek pake celana!”

“Maksudnya apa Bang? Icut nggak pake celana gitu??”

“Iya ! masak Abang kudu tegesin lagi?? Abang sukanya adek nggak pake celana!“

Haahh???!!! Icut nggak pake celana???!!! Pak Haji dan bu Haji pingsan.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar