Sumber: artikel Erri Subakti
.
Membaca tulisan mas Erri Subakti, Bukan Bikin Anak, Tapi Ini Fiksi Anak, saya bersemangat. Bukan ingin ikut menulis, karena fiksi memang bukan bidang saya. Namun saya melihat potensi kontribusi membangun kreatifitas anak bangsa, dari dan oleh bangsa sendiri.
Berapa banyak anak-anak anda, keponakan anda, cucu anda yang kalau besar ingin jadi Power Ranger? Berapa banyak yang ingin berteman dengan Dora Emon? Berapa banyak yang ingin jadi Upin Ipin? - saya benar benar tidak suka sama Upin Ipin ini, terdengar seperti Upil Ipil di telinga saya.
Jagoan anak-anak ini impor semua.
.
Sumber: kaskus
.
Waktu kecil, saya punya cita-cita yang sampai sekarang nggak kesampaian: jadi Gundala Putera Petir. Saya makan yang banyak, biar cepat besar, agar jadi Gundala Putera Petir. Orang tua saya mengambil kesempatan dengan memberi sederet ensiklopedia dan buku-buku tokoh-tokoh Indonesia dan dunia, sejarah penemuan ini dan itu untuk dipelajari, agar saya nanti bisa jadi Gundala Putera Petir. Padahal tidak ada hubungannya. Namun punya cita-cita setinggi langit memicu semangat belajar.
Gundala Putera Petir orang Indonesia.
Sekarang, anak-anak tidak punya tokoh heroik. Buku-buku pelajaran sekolah dasar diselipkan fiksi istri siri dan kisah porno. Gaung Oki dan Nirmala tidak sekuat Upin Ipin yang penampilannya lebih mendekati anak miskin ketimbang hero. Bagaimana anak-anak mau giat belajar, kalau cita-citanya hanya jadi Upin Ipin?
Oleh karenanya, rencana hadirnya Fiksianak adalah rencana yang baik bagi anak-anak. Dari begitu banyak jawara fiksi, pasti akan ada kejutan-kejutan positif bagi pembangunan karakter anak bangsa.
Karena Kompasiana memiliki pangsa pasar dewasa, maka Fiksianak harus memiliki pangsa pasar anak-anak. Buat apa orang dewasa menulis fiksi anak untuk dibaca orang dewasa? Libatkan anak-anak untuk turut menulis di Fiksianak. Pasti akan seru kalau anak-anak yang jadi penulisnya. Gandeng majalah anak-anak untuk mengajak anak-anak turut menulis di Fiksianak. Tambahkan kolom Science Fiction, mari kita lihat, bagaimana imajinasi anak-anak berkembang disini.
Anda bisa juga ciptakan sekelompok tokoh dalam satu kolom tersendiri, seperti anaknya, ibunya, ayahnya, dan sepeda ajaibnya. Lalu para jawara fiksi dan anak-anak menuliskan fiksinya. Maka anda akan mendapatkan sebuah kisah mini seri ribuan judul. Bisa jadi komik, bisa juga jadi film anak-anak. Anak-anak juga jadi lebih senang naik sepeda. Siapa tau nanti kalau generasi ini sudah besar, mereka jadi pada naik sepeda agar sehat, bukan membeli mobil murah.
Bisa juga anda hidupkan kembali tokoh Gundala Putera Petir, Godam, Pangeran Mlar, Sembrani maupun Jin Kartubi. Agar anak-anak termotifasi kalau besar jadi orang hebat. Agar anak-anak tidak melulu membaca kisah-kisah tentang Aceng Fikri, Ahmad Fathanah, Luthfi Hasan Ishaq maupun Habib Rizieq.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar