Jumat, 27 Februari 2015

Tidak Memaafkan Syiah Sekalipun di Bulan Ramadhan

1375254290776169026
Sumber: sleekupload.com
.

Apa yang muncul dalam benak anda jika ada orang Sunda dan orang Jawa berdebat sengit mengenai siapa yang lebih benar, Mahapatih Gajah Mada atau Prabu Maharaja Linggabuana? Apalagi jika perdebatan tersebut berujung pada pembakaran rumah dan pengusiran warga Jawa dari tanah Sunda, atau sebaliknya?

Itu adalah analogi.

Anak-anak dalam foto di atas tidak kenal sama yang namanya Abu Bakar Ash-Siddiq, juga tidak kenal sama yang namanya Ali bin Abi Thalib. Orangnya seperti apa mereka tidak tahu. Apa tinggi apa pendek, apa kurus apa gemuk. Apa rambutnya lurus atau kriwil-kriwil. Mereka tidak tahu. Anak-anak tahunya yang bisa mereka lihat saat ini saja. Ada ibu, ada bapak, ada bu guru, ada pak guru, ada Presiden SBY, dan mungkin ada Jokowi.

Abu Bakar Ash-Siddiq dan Ali bin Abi Thalib hidup tahun 650an, dimana di Indonesia saat itu berdiri Kerajaan Tarumanegara di Barat Jawa, dan Kerajaan Kalingga di Tengah Jawa yang dipimpin oleh ratu Shima yang terkenal sangat jujur dan adil. Kerajaan-kerajaan nusantara, tidak sepenuhnya damai tenteram. Mereka juga berkonflik. Bahkan pernah terjadi peperangan. Namun dendam kesumat kerajaan-kerajaan yang berkonflik tersebut tidak diwariskan turun temurun. Bangsa Indonesia memiliki akar budaya damai yang mendominasi masyarakatnya.

Perbedaan pendapat siapa yang menjadi pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW, apakah Abu Bakar Ash-Siddiq ataukah Ali bin Abi Thalib memunculkan pertikaian dua kubu Syiah dan Sunni yang diturunkan secara universal: lintas abad, lintas budaya, lintas bangsa, lintas bahasa. Tak habis-habisnya dendam kesumat antara satu dengan yang lainnya selama 1400 tahun, yang menelan begitu banyak korban. Di Sampang, berujung pada pembakaran rumah dan pengusiran warga dari tanah kelahirannya sendiri.

Apakah kepemimpinan Abu Bakar Ash-Siddiq mendominasi kehidupan orang Madura saat ini? Ataukah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib? Kelihatannya tidak. Karena di saat saat pasca konflik di pengungsian, yang diserukan oleh warga ternyata Presiden SBY. Bukan Ali bin Abi Thalib maupun Abu Bakar Ash-Siddiq.

Jika melihat berbagai debat, mengapa pengikut Abu Bakar Ash-Siddiq begini, mengapa pengikut Ali bin Abi Thalib begitu, dengan berbagai dalil dibumbui emosi dengan sengitnya, saya tidak habis pikir. Sejarahnya memang demikian adanya. Mau diapakan lagi. Tidak ada seorangpun, saya ulangi: tidak ada seorangpun yang hidup pada masa ini bisa dituntut permintaan maafnya atas pertikaian kedua kubu tersebut 1400 tahun silam. Oleh karenanya, terima saja peristiwa sejarah tersebut. Janganlah anak-anak Sampang tak bisa sekolah gara-gara soal pengikut Abu Bakar Ash-Siddiq vs pengikut Ali bin Abi Thalib.

Jika pengungsi Syiah boleh pulang ke rumah dengan syarat “bertobat” dahulu, akui kepemimpinan Abu Bakar Ash-Siddiq, maka anda berada di jalan yang benar, lalu apa? Apakah kemudian Abu Bakar Ash-Siddiq mendapat perolehan suara lebih banyak sehingga kepemimpinannya memperoleh legitimasi?

Tidak ada yang dapat mengubah sejarah.

Kearifan budaya bangsa sendiri, nyata-nyatanya lebih baik. Kita tidak pernah sekalipun mendengar orang Sunda dan orang Jawa bertengkar sengit soal siapa yang lebih benar, Mahapatih Gajah Mada atau Prabu Maharaja Linggabuana. Begitu juga suku-suku bangsa di Indonesia. Tidak ada yang bertikai gara-gara sejarah.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Jadilah orang Indonesia yang Indonesia. Bukan orang Indonesia yang ngArab. Tidak perlu lah pertikaian yang terjadi di jazirah Arab 1400 tahun lalu dibawa-bawa kesini, satu paket dengan budaya, bahasa dan pakaian tradisionalnya. Kita punya budaya bangsa sendiri yang jauh lebih damai dan berbudi pekerti luhur daripada soal bakar-bakaran rumah orang gara-gara kepemimpinan 1400 tahun lalu di Arab sana.

Coba anda lihat lagi foto di atas. Tatap wajah anak-anak itu. Yang jadi pengungsi gara2 persoalan 1400 lalu yang tidak ada urusannya sama mereka ini. Mereka ingin pulang, ingin sekolah. Mumpung Ramadhan, agar puasanya tidak sia-sia, saling memaafkan sajalah. Pulangkan mereka. Kalau anda tetap berbuat dzolim pada mereka ini, pakai memaksa pilih pindah agama atau kehilangan rumah, lantas buat apa anda berpuasa?

Orang kafir saja punya nurani, masak anda tidak?

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar