Selasa, 24 Februari 2015

Bisakah Mengubah Saya Menjadi Jelek?

1367204443820120488

Pada suatu hari, di sebuah percakapan di facebook di negeri antah-berantah, saya menemukan nama saya disebut-sebut dalam sebuah diskusi fiksi yang saya juga tidak baca isi fiksi dimaksud. Saya ketinggalan berita.

Saya bukan penggemar fiksi. Jadi tidak pernah menjadi penikmat fiksi. Tidak juga penasaran mengenai apa isi fiksi yang dihebohkan itu. Namun tertarik pada kalimat dalam komen di atas “coba kalo yg nulis Esther pasti saya edel2 sampek elek”.Obsesi wanita ini untuk membuat saya jadi jelek menarik perhatian saya.

Pada dasarnya cantik itu relatif terhadap selera yang melihatnya.Namun pernyataan teman-teman yang mengatakan saya cantik, membuat saya ingin berbagi kepada teman-teman putri, bagaimana caranya bertransformasi menjadi lebih cantik dari sebelumnya.

Saya tumbuh besar dan menjadi dewasa sama sekali tidak cantik. Saya dahulu anak jelek. Masa-masa remaja saya, bukan masa yang menyenangkan. Jauh dari cantik. Tidak ada anak laki yang melirik saya. Ada satu yang naksir, tapi naksirnya 1 bulan saja, lalu bosan. Mana enak punya pacar tidak cantik.

Masa kuliah lebih parah lagi. Teman-teman sekelas saya, yang berjumlah 81 orang itu, dimana saya perempuan satu-satunya, tidak kurang parahnya. Mereka memanggil saya dengan nama Gatot. Padahal saya bukan anak tomboy. Saya menyelesaikan kuliah selama 5 tahun tanpa ada satupun teman pria yang naksir saya. Bahkan dari kelas sebelah, yang prianya berjumlah 80 orang, tidak ada juga yang naksir saya. Teman-teman saya memang keterlaluan kok bisa-bisanya nggak ada yang naksir saya, atau memang saya yang jeleknya keterlaluan.

Dengan situasi sedemikian, anda bisa membayangkan betapa buruk rupanya saya. Benar-benar parah.

Bagaimana caranya agar saya bisa punya teman pada masa-masa tersebut? Satu-satunya yang bisa saya andalkan untuk mendapatkan teman adalah ketulusan hati mengasihi teman-teman saya. Mengasihi orang-orang di lingkungan saya. Hanya itu.

Mengasihi yang saya maksudkan adalah: mudah memaafkan, tidak menyimpan benci, tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan luka hati terhadap kesalahan orang lain, dan bersyukur.

Perhatikan: ini tidak mudah. Karena hanya anda sendiri yang mengetahui, apakah anda benar-benar memaafkan atau tidak. Hanya anda sendiri yang mengetahui, anda menyimpan luka hati atau tidak. Saya memerlukan latihan bertahun-tahun untuk dapat memaafkan dari hati dengan cepat.

Memerlukan latihan bertahun-tahun untuk memulihkan luka hati dengan cepat, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tidak menyimpan marah, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk belajar bersyukur.

Dari hati yang penuh kasih dan syukur itulah akan muncul: inner beauty.
Dari inner beauty yang berkesinambungan, anda bisa menjadi cantik permanen.
Hasilnya, saya bertransformasi dari anak yang buruk rupa, menjadi wanita dewasa yang teman-teman saya menyebut saya sebagai wanita cantik.

Oleh karenanya, cobalah mulai mentransformasi diri dengan resep cantik ini:kasihilah sesamamu, seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.

Mengasihi tidak sama dengan menjaga perasaan orang lain. Karena perasaan orang lain adalah tanggung jawab orang tersebut. Kedewasaan bathin, membuat diri dapat menjaga hati agar tetap cantik. Sehingga, upaya apapun yang dilakukan pihak lain untuk meng-edel2 sampai elek, tidak akan membuat seseorang menjadi berkurang kecantikannya apalagi sampai ‘elek’. Sebab kecantikan maupun keburukan keluarnya dari dalam hati.


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar