Ayu, seorang janda dengan dua anaknya yang sudah beranjak remaja, adalah seorang tukang cuci pakaian. Penghasilannya sebagai tukang cuci memang kecil. Tapi Ayu bekerja dengan rajin. Mencuci pakaian tetangga-tetangganya. Kalau Ayu mencuci sedikit pakaian, pendapatannya sedikit. Kalau Ayu mencuci banyak pakaian, pendapatannya lebih banyak. Jadi, tidak ada angka yang pasti yang bisa diperoleh Ayu setiap bulannya. Jatuh sakit adalah hal yang paling ditakuti Ayu. Karena jika Ayu sakit, maka dia tidak dapat uang. Orang miskin tidak boleh sakit. Begitu katanya. Bukansemata soal biaya berobat, tapi bagaimana mencari nafkah kalau sakit?
Namun Ayu tidak pernah merasa kekurangan. Tuhan selalu melimpahkan rejeki dengan cara yang tak terduga. Saat tidak ada uang untuk biaya sekolah, anaknya dapat beasiswa. Padahal, kalau mau sekolah di sekolah negeri bisa lebih murah. Namun Tuhan memberi yang lebih baik daripada yang dapat dipikirkan Ayu. Oleh karenanya Ayu bersyukur.
Hari ini, Ayu sibuk mengurusi pendaftaran ulang anaknya di sebuah sekolah swasta unggulan di Jakarta. Anaknya yang tertua mendapat beasiswa di sekolah itu. Namun, beasiswa ternyata tidak otomatis berlaku untuk tiga tahun. Ayu harus melakukan daftar ulang, menunjukkan prestasi dan meminta rekomendasi dari pendeta tempatnya berjemaat. Namun Ayu tidak berjemaat di gereja manapun. Karena bagi Ayu, ongkos ke gereja lebih berguna jika dipakai buat membeli keperluan sekolah anak-anaknya. Setelah menelepon kesana kemari, mencari pendeta yang bersedia merekomendasi, akhirnya Ayu menemukan seorang pendeta yang mau menolongnya. Hari ini, Ayu dijadwalkan bertemu dengan pak Pendeta.
Matahari baru saja terbenam. Hujan yang turun dengan derasnya tidak melemahkan semangat Ayu untuk pergi menemui pak Pendeta. Karena Ayu tidak ingin terlambat datang. Dengan diantar tukang ojek, Ayu menembus hujan. Jas hujan yang dipinjamkan oleh tukang ojek tidak cukup untuk membuatnya tidak basah. Tapi Ayu tetap semangat. Demi beasiswa, Ayu rela berhujan-hujan.
Tiba di gereja, ternyata pak Pendeta belum tiba. Ayu menunggu. Beberapa jemaat menyapanya, mengajaknya bergabung dalam doa bersama yang sedang berlangsung. Ayu menolak. “Saya tunggu pak Pendeta di sini saja”. Akhirnya pak Pendeta datang. Meminta maaf karena membuat Ayu menunggu. Jalanan macet, hujan deras dan demo buruh baru saja selesai. Macet sekali. Ayu tersenyum. Pak pendeta memberikan tandatangan dan membubuhkan stempel.
Ayu kembali ke rumah, bersama tukang ojek yang masih menunggunya. Hujan belum juga berhenti. Ayu tetap pulang, menembus derasnya hujan dan dinginnya malam. Anak-anak sudah menanti di rumah.
Hidup akan jadi indah jika disyukuri. Biarpun malam-malam basah kuyup kehujanan, yang penting anak bisa sekolah. Itu saja yang ada di benak Ayu. Persoalan itu seperti air. Selalu mengalir mencari jalan keluarnya sendiri. Ayu bersyukur. Merasa hidupnya lebih beruntung daripada para buruh yang berdemo itu. Padahal upah mereka lebih tinggi dari pendapatan Ayu.
Ah, biar sajalah mereka. Ayu senang, anak-anak juga senang. Bisa sekolah tanpa mengkhawatirkan biayanya. Belajar yang rajin ya nak..
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar