Selasa, 24 Februari 2015

Saya Dikira Susno Duadji

13672284781961952044
Terpidana kasus suap pengamanan Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat 2008, Komisaris Jenderal (Purn) Susno Duadji sudah ditetapkan sebagai buronan oleh Kejaksaaan Agung. Statusnya sebagai buronan sudah ditetapkan setelah gagalnya pemanggilan Susno oleh Kejaksaan untuk menjalani hukuman selama 3 tahun 6 bulan.

Status buronan, atau DPO, dalam dunia hukum, adalah status yang paling parah. Tahanan saja masih dipandang sebagai orang yang mau menghadapi masalahnya. Namun DPO, buronan, artinya kabur. Bahasa gaulnya: Kabboouuurrrr….!!

Susno Duadji, mantan Kabareskrim Mabes Polri periode Oktober 2008 – November 2009. Merupakan salah satu jabatan yang paling bergengsi di Mabes Polri. Semua orang hormat pada jabatan ini. Dengan kode panggil “Truno 3”. Artinya, orang yang paling berpengaruh nomor tiga setelah Kapolri dan Wakapolri.

Susno Duadji merupakan lulusan Akabri Kepolisian dan mengenyam berbagai pendidikan antara lain PTIK, S-1 Hukum, S-2 Manajemen, dan Sespati Polri. Ia juga mendapat kursus dan pelatihan di antaranya Senior Investigator of Crime Course (1988), Hostage Negotiation Course (Antiteror) di Universitas Louisiana AS (2000), Studi Perbandingan Sistem Kriminal di Kuala Lumpur Malaysia (2001), Studi Perbandingan Sistem Polisi di Seoul, Korea Selatan (2003), serta Training Anti Money Laundering Counterpart di Washington, DC, AS.

Hebat sekali ya..

Ngomong-ngomong tentang nama besar seorang Susno Duadji, saya juga pernah ikut kecipratan dihormati karena dikira Susno Duadji. Bukan, bukan karena tampang saya mirip Susno Duadji. Tapi mobil dinas saya saat itu kebetulan sama persis dengan yang sering dipakai oleh Susno Duadji. Kondisi ini sering saya manfaatkan. Jarang-jarang kan dihormati polisi.. Jadi, kalau saya datang ke Mabes Polri, saya pede aja masuk lewat pintu depan. Pak supir juga nggak pake ngerem. Memang canggih ini pak supir, gayanya meyakinkan. Polisi-polisi yang jaga di pintu depan itu, mendadak berdiri hormat senjata dan membukakan pintu. Hahaha… dikiranya Truno 3, padahal cuma emak-emak dapur biasa. Pake dihormat senjata-in segala. Karena ngeri-ngeri sedap dikira Susno, saya tidak parkir di depan Bareskrim. Karena itu tempatnya pak Susno. Saya parkirnya ngumpet sedikit. Di samping tank. Barulah saya turun.

Biasa lah begitu. Kalau Jumat, saya suka titip makanan kucing sama pegawai yang pulang ke Bandung saat weekend.

Nah, dengan terhormatnya seorang Susno Duadji, masak sekarang jadi DPO? Mana pakai dikawal Brigade Hizbullah segala. Siapa ini Brigade Hizbullah? Kelompok preman? Kenapa jadi buronan dan bergabung sama preman? Anda kan mantan Truno 3, masak Komisaris Jenderal kabur..


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar