Jumat, 27 Februari 2015

Pak Jokowi, Kita Bikin “Betawi Fair” Yuk!

Waktu saya kecil, tiap tahun saya ke Jakarta Fair di Monas dengan orang tua saya. Kalau bapak saya parkir mobil, tukang parkir akan teriak-teriak:

“Teruuus ! teruuus !”

Bruukk !

“Hoopp…!!”

Kalau bemper belum nabrak mobil belakangnya, tukang parkir belum teriak “Hoopp…!!”
.

1370953970497202338
Sumber: wikipedia
.

Rasanya excited sekali kalau diajak ke Jakarta Fair. Apalagi kalau sudah keliatan gerbangnya. Wah, saya gembira. Jalan menuju gerbang nggak bisa lurus, karena sambil pencilakan. Mengsla mengsle. Pengalaman di PRJ yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya, adalah salah gandeng bapak-bapak. Entah bapaknya siapa dahulu itu yang saya gandeng. Kok mau-maunya saya pegangi segitu lama. Sayanya kok ya telmi, bapak-bapak pakai celana cut brai warna putih kok digandeng. Padahal bapak saya pakai celana abu-abu. Sementara bapak saya ngikuti saja dari belakang. Maklum saja, tinggi saya saat itu hanya sepinggang orang dewasa.

Kalau ke Jakarta Fair, pasti beli balon, kerak telor, gulali, nonton ondel-ondel, nonton orang (maaf) cebol joget-joget di stand Baterai ABC dan beli Supermi.
Apa yang dahulu kita kangeni dari Jakarta Fair, sudah punah. Event yang selalu ditunggu-tunggu warga Jakarta hilang sejak Jakarta Fair pindah ke JIExpo. Warga Jakarta butuh acaranya orang Jakarta. Yang berisi budaya Jakarta.

Setelah Jakarta Fair, yang sekarang namanya Pekan Raya Jakarta pindah ke JIExpo, saya hanya sekali datang, dan hingga sekarang tidak pernah ke sana lagi. Tidak ada yang menarik di PRJ. Mending ke Mall. Kalau mau beli kerak telor, harus ke luar PRJ, beli di pinggir jalan.

Belum lagi ticket masuk PRJ yang seharga Rp. 30.000,-. Kalau sekeluarga ada 4 orang, maka ticket masuk Rp.120.000. Mending buat beli beras untuk sebulan. Belum beli minum di dalam. Belum jajan-jajan. Belum ongkos ke Jakarta Fair. Bisa habis Rp.500.000 kalau bawa keluarga ke Jakarta Fair. Padahal gaji cuma Rp. 2.2 juta. Jadi, orang miskin silahkan gelar tikar, nonton Jakarta Fair dari luar pagar sambil makan kerak telor.

Pak Jokowi,

Bagaimana kalau kita bikin Betawi Fair? Pesta Rakyat Jakarta. Yang ada segala hal tentang budaya Betawi nya. Agar budaya betawi tetap lestari. Kita joget bareng ondel-ondel pakai lagu-lagunya Benyamin Suaeb kan seru..

Nggak seperti propinsi sebelah, yang tari tradisionalnya sendiri dilarang-larang gara-gara ketiak. Padahal, sejak jaman donat belom bolong, ketiak tempatnya sudah di situ. Tariannya sudah begitu. Bajunya sudah bagus begitu, kok ujug-ujug mencak-mencak nyalahin ketiak.
Amit-amit deh, jangan sampai budaya Betawi dilarang-larang gubernurnya. Apalagi kalau ondel-ondel kudu dipilih yang belum aqil balik. Ribet!

Nah, kalau kita bikin Betawi Fair, jangan lupa pesenan saya:

Kerak telor:

13709538932020145457
Sumber: bubblews.com
.

Gulali :

1370953830572281917
Sumber: monster-bego.blogspot.com
.

Arumanis

13709536232056335321
Sumber: Ceriwis.com
.

Kue Pancong:

13709535771181142293
Sumber: resepmasakanchef.wordpress.com
.

Jangan lupa, kita naik delman:

13709533331008598186
Sumber: inilah.com
.

Ondel-ondel aja sudah otw ke Monas..

13709534061566481738
Sumber: motret sendiri
.

Kalau ada Betawi Fair di Monas, saya janji deh, nggak bakal salah gandeng bapak-bapak lagi kayak dulu. Suweeerr….

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar