Namanya juga teman SMA, ada yang jadi tukang cuci pakaian tetangga, ada yang emak emak dapur, ada juga yang jadi Polwan. Jadi, ceritanya saya janjian sama teman SMA yang Polwan ini untuk bikin paspor. Mikir-mikir, bikin paspor dimana yang cepat dan nggak pakai antri, duit pas-pasan nggak mampu bayar biro jasa, akhirnya saya putuskan membuat paspor di Bogor. Dengan pertimbangan, tentunya imigrasi Bogor tidak seramai imigrasi Jakarta.
Tibalah hari H. Pagi-pagi saya dijemput untuk ke Bogor. Tapi sebetulnya saya agak sakit perut. Namun karena tidak ada urgensi ke toilet, saya tetap berangkat.
Di Bogor, kami membeli formulir yang diperlukan, mengisi dan menyerahkan formulir. Lalu pergi makan siang, dan kembali ke imigrasi untuk wawancara dan foto. Ditunggu setengah jam, paspornya jadi. Sakti sekali imigrasi Bogor. Bikin paspor 2 jam selesai. Biaya yang saya keluarkan hanya Rp.225.000. Entah Imigrasi Bogor sakti, entah sayanya yang sakti. Don’t try it yourself. Hasilnya pasti beda.
Dalam perjalanan pulang, jeng Polwan ini minta mampir sebentar ke Mabes Polri karena ada yang harus dia laporkan ke atasannya.” Apa nggak bisa pakai email sih? Gue sakit perut nih.. ” Kata saya. “Nggak bisa lah, masak lapor komandan pake email. Udah, tunggu bentar aja, paling setengah jam gue ngadep” gitu katanya. Ya sudah. Namanya juga saya naik mobil dia. Jadi saya ikut saja.
Setibanya di Mabes Polri, saya disuruh menunggu. Tidak jauh dari ruang Kapolri. Tapi, sakit perut ini tidak mau mereda. Lama-lama kok blur semua pandangan saya. Mana Komisaris Besar, mana office boy sudah tidak bisa saya bedakan lagi. Tapi, saya masih bisa meraih handphone saya. Kirim sms ke jeng polwan: “gue pingsan”. Lalu hilanglah pandangan.
Bangun bangun sedang berbaring di tempat tidur di klinik di Mabes Polri. Jeng polwan duduk di sebelah saya. Terdengar suara orang bertanya “ini intel ya?”katanya. Intel ndasmu..
“Heh.. Udah bangun lu? “ Seperti biasa, jeng Polwan ini kalau menyapa sudah kayak menyapa copet habis digebuki.
“Tadi yang gotong gue kemari Kapolri bukan?” tanya saya.
Jeng polwan ngomel-ngomel . “Dodol lu… dodol lu… “
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar