“Congratulation daddy, you hurt me because you have a girlfriend”.
“Forget it, I am not your little girl anymore”.
Begitu bunyi 2 tweet anak sahabat saya yang baru naik kelas 8 di hari saat ayahnya memperkenalkan calon ibu tambahan bagi keluarganya.
Apa yang anda rasakan jika anak anda posting kalimat seperti itu di twitter atau Facebook? Ayah macam apa anda ini jika tidak perduli saat anak posting kalimat seperti itu di twitter?
Coba bandingkan tweet anak tadi dengan pernyataan anggota Komisi III fraksi PKS ini: “Saya rasa semua orang di sini juga suka sama perempuan. Kalau nggak percaya tanya sama Pak Busyro! Urusan istri saya berapa itu urusan saya. Lagian menurut agama saya itu sunah!” kata Aboebakar al Habsy (Kompas.com 28 Juni 2013). Sebuah pernyataan berapi-api yang dilontarkan tanpa memikirkan perasaan anak istrinya sama sekali. Komisi III DPR adalah komisi yang diantaranya mengurusi HAM. Bagaimana mau mengurusi hak azasi anak bangsa jika tidak perduli pada perasaan anak kandung sendiri?
Beberapa waktu lalu, saya berbincang-bincang dengan seorang anak kelas 5 SD. Katakanlah namanya Tasya. Saya bertanya padanya, “Kamu berapa bersaudara, Tasya?” Sebuah pertanyaan biasa yang sering saya tanyakan pada anak-anak. Namun kali ini saya mendapat jawaban yang agak berbeda. “Aku nggak begitu tau pastinya Tante” saya agak terkejut mendengar jawabnya, “Maksud kamu apa, Tasya?” Tanyaku. Tasya menjawab, “Sebetulnya aku dua bersaudara, tapi lebaran kemarin, papa ngenalin aku sama abang tiriku. Kata papa, aku punya tiga abang lagi, anaknya papa dari istri yang lain. Kalau mereka dihitung juga, kita jadi lima bersaudara. Tapi yang dua lagi aku belum pernah ketemu”.
Seto Mulyadi mengatakan, saat ayah melakukan poligami maka rasa cemburu, marah, sedih kecewa tentu tidak bisa dihindari anak. Hal ini akan berdampak pada fisik dan prestasi akademiknya. Pikiran anak yang dipenuhi emosi ini bisa menghambat tumbuh kembang anak baik secara psikis, fisik dan bisa menghambat prestasinya di sekolah. (Vivanews.com)
Beberapa testimoni anak-anak yang ayahnya poligami saya kumpulkan diantaranya:
“Ayah tidak sholat ied bersama kami, karena dia sholat ied dengan istri dan anak-anaknya yang lain.”
“Ayah tidak ada saat saya sakit, saya ingin tahu apa yang ada dalam pikiran seorang ayah yang tidak datang saat anaknya membutuhkan”.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Malang, menyebutkan bahwa dalam sebuah poligami, anak perempuan lebih mendapat akibat psikologis. Dia tidak terlalu bangga dengan ayahnya, akan tetapi lebih simpati kepada ibunya. Meskipun tidak semuanya diakibatkan oleh poligami yang dilakukan ayahnya, namun juga karena faktor lingkungannya. Anak jadi tidak betah di rumah dan lebih sering mencari teman sebayanya yang bisa mengerti keadaan bathinnya.
Seto Mulyadi memberi saran bagi pelaku poligami, terkait dengan kondisi psikologis anak. “Jika memang sang ayah melakukan poligami, cobalah berbesar hati meminta maaf pada anak. Karena, poligami pasti melukai anak dan bisa membuatnya berpikir negatif dan apatis terhadap lembaga pernikahan kelak. Menjelaskan dengan kesabaran dan meminta maaf adalah salah satu cara untuk meminimalisir dampak negatif poligami bagi anak. (vivanews.com)
Sekalipun diijinkan agama, sekalipun anda menganggap Tuhan lebih tau yang terbaik buat anak-anak. Berbagai penelitian dan pendapat ahli menyatakan, bahwa poligami berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak. Poligami melukai hati anak. Masak anda dengan sengaja memberikan diri untuk menjadi bagian dari ujian hidup bagi anak anda yang belum masanya diterpa badai hidup? Masak badai hidup anak adalah ayahnya sendiri? Ayah macam apa yang bukannya memberi perlindungan pada anak, malah turut menjadi badai kehidupan bagi anak?
Pernah dengar istilah: My daddy is my first hero?
Bagaimana anak bisa menjadikan anda pahlawannya jika anda menikahi anak sekolah lain? Bagaimana anak bisa menjadikan anda pahlawannya jika anda belum tentu pulang ke rumah minggu ini? Bagaimana anak bisa menjadikan anda pahlawannya jika sperma anda bertebaran dimana-mana?
Siapapun yang dengan bangga membela-bela poligami, jelas lebih perduli pada otong sendiri dibandingkan perasaan anak kandung. Berpoligami menunjukkan bahwa anda keji terhadap anak kandung anda sendiri.
Saya ulangi: Anda keji terhadap anak kandung anda sendiri.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar