Jumat, 27 Februari 2015

Isra Miraj, Pengalaman Berkesan

Hari sedang siang. Matahari tak terlihat. Namun cuaca terasa panas. Mungkin sekitar 30 derajat. Aku memandangi kulit lenganku, sambil merasakan hembusan angin panas yang menerpa. Ada rasa aneh di batinku. Kenapa aku merasakan panasnya angin di kulitku?
Aku memandangi kakiku. Yang berdiri di atas tanah berpasir berwarna coklat muda. Aku dimana? Aku pandangi sekelilingku, tidak ada apa-apa. Hanya tanah berpasir dan bebatuan berwarna coklat muda.

Aku menyibakkan rambutku yang menutupi wajahku karena hembusan angin. Dan melihat seorang pria berdiri di depanku. Pakaiannya seperti jubah berwarna putih. Kaki beralaskan sandal bertali. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Bahu bidang dan kekar. Rambut hitam legam berombak terurai sebahu.

Saat aku memperhatikannya, dia tersenyum. Matanya begitu teduh, dan memancarkan kasih. Ada energi yang aku rasakan terpancar dari dirinya. Sebuah energi yang teduh yang tidak dapat kugambarkan.

Dia sungguh berbeda dengan sahabatku. Yang selalu muncul saat aku memerlukan kehadirannya. Rambutnya coklat keemasan terurai sebahu. Tubuhnya lebih tinggi dari pria yang ini. Wajahnya memancarkan sebuah ketegasan dan wibawa, namun penuh kasih.
Pria ini jauh berbeda. Hanya kasih yang aku tangkap darinya.

Dia tersenyum, dan menyapa, “Hai” katanya.

“Hai”, kataku sambil melempar senyum padanya. Rasanya seperti sudah mengenal lama.

Dia memandangiku seolah ingin memberitahu sesuatu. Aku tetap disitu, menanti apa kira-kira yang akan dia lakukan. Lalu dia mengijakkan kakinya di atas lempengan batu di dekat kakinya. Batu yang aneh menurutku. Pipih seperti sebuah meja besar, berwarna coklat muda. Tiba-tiba pria ini melesat naik menghilang dengan cepat. Meninggalkan aku sendirian di sini. Dengan batu aneh tadi. Yang kini melayang hampir dua jengkal dari tanah.

Kemana pria tadi? Dia sudah tidak ada. Aku benar-benar heran, bagaimana dia bisa menghilang secepat itu?

Tiba-tiba semua gelap. Aku mendapati diriku berada dalam kamarku, yang dingin ber-ac. Namun aku berkeringat. Kepanasan.

Ah, rupanya hanya mimpi. Mimpi yang aneh, karena tekanan energi yang aku terima dalam mimpi terbawa hingga saat terjaga. Menggetarkan. Aku memejamkan mataku. Jiwaku berkata kepada pria dalam mimpi, “Next time I’ll see you again, we’ll talk”.

Hari ini, tiga tahun telah berlalu setelah pertemuan pertama itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku tersenyum. Tidak akan pernah lupa pada energi yang terpancar dari wajahnya. Rasanya ingin bertanya padanya, “Apa kabar? Aku lupa menanyakan namamu..”

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar