Bangsa ini terpaku pada tiga hal itu saja. Masyarakat meributkan rok perempuan. Dada Farah Quinn. Miss World pakai baju renang. Perda duduk ngangkang. Razia permesuman. Sekarang soal keperawanan. Itu saja yang ada di otaknya. Seputar paha, dada dan selangkangan perempuan. Karena berpotensi menggerakkan “daya pikir” banyak pria yang letaknya bukan di kepala, tapi di selangkangan.
Kasus Disdik Prabumulih misalnya. Dibantah akan menggunakan APBN dalam melakukan test keperawanan. Ini soal terjaringnya korban perdagangan anak, yang dipermasalahkan keperawanannya. Agar tidak jadi fitnah, maka harus di test keperawanannya. Seberapa berartinya kah soal fitnah dibanding soal perdagangan anak? Kenapa Disdik lebih concern soal fitnah keperawanan ketimbang perdagangan anak?
Karena fokus pemikiran tidak jauh dari paha dada dan selangkangan.
Bagaikan manusia purba yang fokus hidupnya hanya pada berkembang biak. Beginilah kita. Kembali ke jaman lalu. Bukan berpikir ke depan, bagaimana mencerdaskan anak bangsa agar mereka kelak sejahtera.
Belum lagi agamawan mengusulkan agar soal keperawanan agar masuk Perda. Yang ujung-ujungnya, jualan Stempel Perawan. Atau memperjual belikan Sertifikat Keperawanan. Apa yang tidak bisa dimanipulasikan di negeri kelamin ini?
Orang sudah bikin mobil terbang, kita kok masih ngurusi paha dada dan selangkangan…
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar