Demo FPI di Banyuwangi yang katanya hendak menyerang Bali atas penyelenggaraan Miss World bubar setelah para pendemo diberi nasi bungkus (Tribunews 14 September). Soal nasi bungkus ini bukan berita baru. Dalam berbagai demo yang dilakukan oleh FPI, selalu disertai dengan pemberian nasi bungkus. Yang harganya berkisar Rp. 7.000 hingga Rp. 15.000. Lebih mahal dari itu, maka sudah pakai kemasan box. Artinya, nasi bungkus ini memiliki pangsa pasar ekonomi bawah.
.
Gambar: FB fan page Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab
.
Gambar tersebut menunjukkan perbedaan ekonomi antara petinggi FPI dengan pengikutnya. Dimana nomor mobil yang digunakan oleh petinggi FPI tidak muncul jika anda lakukan search di Samsat. Tentu saja pihak berwenang mengaku punya data yang tidak diberitahukan ke publik. Padahal, data di Samsat adalah data pada Portal Resmi DKI Jakarta.
Mengapa kendaraan yang tidak ada datanya di Samsat bisa digunakan di jalan raya tanpa kena tilang? Secara umum, tentu saja dapat disimpulkan bahwa yang berwenang melakukan tilang (Kepolisian) memiliki hubungan dengan kendaraan yang digunakan oleh petinggi FPI.
Kendaraan tersebut bisa jadi milik Kepolisian yang dipinjamkan kepada petinggi FPI. Atau, kendaraan tersebut bisa jadi milik petinggi FPI yang dilindungi oleh Kepolisian.
Sementara itu, para anggota FPI, cukup dengan naik motor atau naik odong-odong saja. Yang bisa diajak berdemo atau dibubarkan dengan nasi bungkus, dan mungkin ditambah ongkos pulang.
Masihkah anda percaya bahwa suara FPI mewakili umat Islam Indonesia?
Saya tidak percaya.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar