Jumat, 27 Februari 2015

Menginjak-injak Kuburanmu, Tak Semudah Diucapkan

“Pokoknya, siapa dari antara elo-elo semua, yang meninggal duluan, bakal gue injek-injek kuburannya!” begitu kata Ubay pada kita semua, pasca meninggalnya Fajar teman kami, karena sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya.

“Nanti kalau dimarahin keluarganya gimana?” kata yang lain.

“Ya kita pulang dulu, nanti malemnya kita balik lagi. Kita injek-injek tuh kuburan yang meninggal duluan. Salah sendiri, kenapa ninggalin kita-kita duluan.” Kata Ubay lagi.

“Bener nih ya.. kita injek-injek..”

“Beneeerrrr…..!!!”

Kami sepakat. Suatu saat, kalau ada yang meninggalkan kita duluan, akan kita injak injak kuburannya malam-malam.

Kami selalu bersama-sama. Berduabelas. Anak kost. Bolos bareng. Main bareng. Belajar… sepertinya jarang. Sehingga, IP kami rata-rata di bawah 1 saat semester pertama.

Ubay, termasuk salah satu yang paling rajin sholat di kost. Tentu saja, tidak lolos dari gangguan teman-teman. Namun dia adalah mahasiswa yang teguh. Sholat jalan terus tak perduli gangguan. Bahkan, saat setiap sela jari-jari kakinya diselipkan petasan cabe rawit, dia tak bergeming. Hingga, petasan disundut rokok. Barulah sholat mendadak batal. Ubay loncat-loncat. Kejar-kejaran dimulai, diakhiri saling tiban. Jika dua orang sudah saling tiban. Maka sisanya turut meniban. Untuk sesi ini, saya cengar cengir saja. Tidak ikutan. Karena perempuan sendiri.

Petasan cabe rawit, memang jadi andalan. Selain untuk mengganggu teman sholat, juga buat dilempar ke dalam kamar mandi lewat jalusi jika ada yang buang hajat.

Masa kuliah memang menyenangkan. Keroyokan merobek t-shirt yang kedapatan bolong. Capung terbang dari dalam mulut yang membuat salah satu dari kami terbirit-birit karena phobia serangga. Capung hidup tertelan. Belum lagi soal numpang buang hajat di kost, bisa jadi ada tinja yang ditusuk pakai lidi tengahnya, agar tidak dapat disentor. Kemudian ditinggal pergi kuliah begitu saja oleh pelakunya.

Hari ini setelah bertahun-tahun berlalu, kita semua berkumpul lagi. Di depan pusara Ubay. Keluarga sudah pergi. Kami tetap tinggal di situ. Menangis sambil tertawa, mengenang masa lalu. Mengomeli Ubay yang meninggalkan kami duluan nggak bilang-bilang. Sambil saling bertanya, siapa dari antara kita yang mau injak-injak kuburan Ubay yang masih basah ini?

Bay, ternyata menginjak-injak kuburanmu tidak semudah mengucapkannya. Selamat jalan sahabat..

.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar