Ramai pembicaraan soal sadap menyadap, dengan tanggapan kompasianer Prayitno Ramelan soal informasi dari Government Communications Headquarters (GCHQ), Valentino soal XKeyscore, bikin sakit kepala saya yang tidak paham soal bahasa tinggi teknologi sadap menyadap ini.
Scope terkecil sebuah sistim jaringan IT dan Telekomunikasi adalah sebuah institusi atau kantor. Scope terbesar adalah dunia. Jika anda bekerja di sebuah kantor yang memiliki PABX (Private Automatic Branch Exchange - sentral telepon) anda akan melihat, bahwa pesawat telepon anda sama mereknya dengan seluruh pesawat telepon di kantor anda. Perbedaannya hanyalah feature. Pesawat telepon bos anda memiliki tombol feature lebih banyak dari tombol feature telepon di meja anda. Yang tombol featurenya paling banyak, tentu operator. Lampunya banyak dan kelap kelip. Bukankah begitu?
Aktivasi seluruh feature, diatur oleh Admin PABX. Setiap orang diberi password ber-level.
Ada yang passwordnya hanya bisa menelepon lokal, ada yang bisa interlokal, ada yang bisa international call. Admin bisa melakukan apa saja terhadap extension anda. Mengganti nomor extension, mendengarkan percakapan anda, mendengarkan isi voice mail anda, bahkan mengirim pesan ke extension anda seolah dari extension pak bos.
Apa yang bisa dilakukan untuk voice berlaku untuk data. Sepanjang admin pegang password, dia bisa melihat isi data anda, dan melakukan apa saja atas data anda.
Di era tahun 80an, belum banyak PABX dipabrikasi. Di Indonesia hanya ada dua besar pemain yang merajai dunia telekomunikasi: Siemens dan AT&T. Belakangan masuk Nortel dari Canada. Ketiga PABX ini memiliki keseragaman teknologi. Institusi dan perusahaan besar di Indonesia, umumnya menggunakan dua merek pertama tersebut.
Mari ke scope yang lebih besar. Katakanlah, Kedutaan Amerika, Newmont, Freeport, Indosat dan BIN menggunakan PABX merek yang sama: AT&T. Artinya, distributor AT&T di Indonesia memiliki password seluruh institusi tersebut. Bisa membuat extension, assign voice mail, dan sebagainya, termasuk menelepon ke rumah eyang di kampung tapi tagihannya muncul atas nama Newmont Minahasa, bisa menelepon dari kantor tapi yang muncul nomor milik Kedutaan Amerika. Tentu saja bisa mendengarkan isi pembicaraan Duta Besar Amerika dan pembicaraan Ketua BIN.
Yang menarik buat saya saat itu adalah: semua pihak tidak tahu dan semua pihak tidak saling cross check.
Kedutaan Amerika tidak pernah menanyakan ke distributor mengenai seberapa telanjangnya mereka, juga tidak pernah menanyakan password BIN. BIN sama saja. Tidak tahu kalau kita bisa menguping maupun merekam seluruh pembicaraannya, dan mereka tidak pernah menanyakan password kedutaan. Sementara engineer, yang bisa nguping sana sini, cuma mikir kapan gue naik gaji. Tidak pernah terpikir ngupingi pak Dubes maupun ketua BIN. Bisa telepon ke kampung halaman yang tagihannya dibebankan ke perusahaan asing yang tidak pasang billing system saja sudah senang, buat apa nguping pak Dubes.
Pertengahan era 90 an muncul kebijakan serah terima password dari Kedutaan Amerika, disusul seluruh perusahaan asing melakukan serah terima password. Lalu seluruh principal baik AT&T, Siemens, maupun Nortel melakukan kebijakan multiple distributor. Tamat sudah era bersenang senang pakai telepon orang. Tamat sudah era jadi single distributor. Semua mendadak jadi fokus pada perang harga antar distributor dan bajak-bajakan staff.
Dari sini kita bisa melihat, bahwa kuncinya adalah: keseragaman sistem dan kemampuan akses.
Saat ini teknologi semakin maju. Perusahaan Telco dan IT semakin beragam. Kalau sudah beragam begini, bagaimana cara menyadapnya? Ternyata, di dalam keberagaman masih ada keseragaman. Seluruh produk IT yang dipabrikasi, mengacu pada keseragaman berikut ini:
• Telephone Industry Association (TIA) specification X-XXX-XXX
• Packet Cable Electronic Surveillance Specification XXX-XX-XXX-XXX-XXXXXX
Adalah standard internasional. Artinya, seluruh perangkat telekomunikasi voice dan data, mengacu pada standard tersebut. Dari situlah penyadapan bisa dilakukan sekalipun mereknya berbeda. Sebagai analogi: apapun perangkatnya, stop kontak bentuknya seragam, connector bentuknya seragam.
Jika sudah bicara teknologi seperti ini, maka penyesalan terdalam saya selalu muncul. Karena, dahulu perangkat-perangkat vital yang dapat membuat kita menguasai teknologi, pabriknya ada di Cibitung. Dan pernah direncanakan akan dibangun pabrik-pabrik perangkat telekomunikasi lainnya. Namun, karena semua bicara nasionalisasi, anti amerika, anti barat, propaganda pakai produk Indonesia, demo buruh, demo agama, dan sebagainya, maka pabrik-pabrik itu ditutup. Karyawannya diekspor.
Bagaimanapun, pabrik punya password tertinggi.
Kita tidak lagi berpeluang pegang password untuk menyadap seluruh kedutaan di Indonesia dan seluruh perangkat berteknologi Amerika di dunia. Nasionalisme fanatis itu baik, tapi hendaknya dibarengi dengan berpikir jangka panjang. Akibatnya, ketika Presiden kita disadap, kita bisanya cuma ngomel-ngomeli Amerika sambil ngacung-acungi handphone berteknologi Amerika. Marah-marah pada Israel, tapi CCTV istana pakai teknologi Israel.
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar